Ramadhan 2026
Ramadhan Tetap Sehat, RS Unair Beri Tips Puasa Aman bagi Penderita Gangguan Ginjal dan Lambung
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Berpuasa di bulan Ramadhan menjadi tantangan besar bagi para penderita gangguan ginjal dan lambung. Sebab, mereka memiliki kewajiban untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap optimal melalui konsumsi makanan, minuman, dan obat-obatan tertentu.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Unair dr Mutiara Rizki Haryati SpPD K-GH mengatakan, penyakit ginjal terbagi menjadi dua jenis, yakni penyakit ginjal akut yang terjadi secara tiba-tiba, dan penyakit ginjal kronis yang menetap dalam tubuh setidaknya selama tiga bulan.
Khusus pada penyakit ginjal kronis, kondisi pasien kemudian diklasifikasikan ke dalam lima stadium berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal.
Menurutnya, tidak semua pasien gangguan ginjal diperbolehkan berpuasa, mengingat perbedaan gejala pada setiap stadium.
“Bagi pasien stadium satu dan dua, karena hampir tidak ada masalah pembuangan air atau sampah tubuh maka sangat boleh berpuasa. Yang sudah masuk stadium 3a, ini sebaiknya tidak berpuasa, tetapi masih memungkinkan, sedangkan stadium 3b akan lebih sehat jika tidak berpuasa,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
“Bagi pasien stadium empat dan lima, tepatnya ketika mereka belum cuci darah, tidak direkomendasikan karena dapat mempercepat kemungkinan untuk menjalani dialisis,” sambungnya.
Pasien yang sedang menjalani terapi rutin sangat dianjurkan untuk tidak berpuasa. Selain berisiko memperburuk kondisi tubuh, proses terapi tersebut juga dapat membatalkan puasa.
Sedangkan, bagi pasien yang telah melangsungkan transplantasi ginjal, lebih baik berpuasa pasca satu tahun operasi.
dr Mutiara menegaskan agar berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa, mengingat gejala penyakit ginjal bisa berbeda bagi masing-masing pasien.
“Bagi yang telah memutuskan berpuasa untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum air secukupnya dan menghindari makanan tinggi fosfat serta kalium,” tegasnya.
Sedangkan, dr Andi Ratna Maharani SpPD menjelaskan tentang penyakit maag atau dispepsia. Gangguan kesehatan tersebut kebanyakan terjadi karena buruknya pola makan dan gaya hidup.
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi makanan pedas, asam, berlemak, maupun produk olahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit maag. Risiko semakin tinggi apabila pola makan tersebut disertai dengan konsumsi minuman berkafein dan bersoda.
“Selain itu, faktor gaya hidup turut berkontribusi terhadap muncul dan kambuhnya penyakit maag. Meliputi stres, penggunaan obat antinyeri tanpa pengawasan dokter, kebiasaan merokok, langsung berbaring setelah makan, sering menunda waktu makan, mengonsumsi makanan dalam porsi berlebihan, hingga kurangnya aktivitas fisik,” jelasnya.
Menurut dr Andi, menghilangkan kebiasaan tersebut sangat berpotensi mencegah dan mempercepat penyembuhan penyakit maag.
Ia mengingatkan penderita penyakit maag untuk peka terhadap kondisi tubuhnya sendiri agar mengetahui kapan harus membatalkan puasa.
“Apabila ada nyeri berat mendadak, muntah terus menerus, nyeri kepala disertai keringat dingin hingga pingsan, muntah darah, dan BAB hitam perlu membatalkan puasa. Jika tidak membatalkan puasa, maka berisiko terjadi komplikasi yang lebih serius,” pungkasnya. (aci)

