Piala Dunia 2026
Cucurella
Pesta telah usai. Di tengah kondisi dunia yang penuh hiruk pikuk perang dan ekonomi, perhelatan terbesar sejagat ini berakhir sukses.
Amerika, Meksiko dan Kanada berhasil menyelenggarakan event yang dinantikan seluruh makhluk di bumi ini dengan baik dan lancar.
Hiburan dari artis dunia di tengah babak saat final Piala Dunia 2026 mengejutkan sekaligus memukau. Sepak bola adalah sebuah showbiz yang luar biasa.
Drama air mata dan sukacita lengkap tersaji sejak babak penyisihan hingga final. 11 Lelaki vs 11 lelaki bertarung hebat di lapangan hijau selama 90 menit hingga adu penalti.
Tapi drama atau kejutan sebesar apapun, sepak bola pada akhirnya adalah event yang sewajarnya. Empat besar menjadi milik empat tim dengan ranking FIFA tertinggi.
Empat tim negara yang memang terkuat saat ini. Final impian dua Goat Cristiano Ronaldo melawan Lionel Messi gagal terjadi. Sejarah lebih memilih Goat saat ini Messi melawan calon Goat masa depan Lamine Yamal.
Partai final juga menjadi sewajarnya. Dua tim teratas. Tak ada kejutan dari Prancis dan Inggris. Taktik Spanyol dan mentalitas Argentina hentikan mereka.
Pesona Kylian Mbappe dan Harry Kane tak mampu antar tim ke final. Pada akhirnya Tiki taka dan Tango yang tersaji di Final.
Hasil final pun juga menjadi sebuah kewajaran. Mana mungkin kemenangan menjadi milik tim yang tidak sekalipun menendang ke gawang lawan.
Piala menjadi milik pasukan muda Spanyol. Pau Cubarsi yang pernah satu turnamen bersama Arkhan Kaka menjadi pilar yang hentikan serangan Messi dkk.
Dua kekuatan filosofis dan artistik yang dipopulerkan Friedrich Nietzsche dalam The Birth of Tragedy terwakili di Stadion New York New Jersey.
Spanyol adalah Apollonian merujuk pada keteraturan, logika, dan akal, sementara Argentina adalah Dionysian mewakili kekacauan, emosi, dan naluri.
Pemikiran Apollonian bersifat rasional, analitis, dan terkendali. Energi Dionisian berasal dari gairah mentah yang tak terkendali, naluri mentah, dan hasrat sesaat.
Spanyol dengan filosofi fanatik pada tiki taka dengan penguasaan bola jauh lebih unggul dari emosi Enzo Fernandez dan Leandro Paredes.
Luis de la Fuente tidak suka dengan cara main jab, jab, shoot, score seperti kata Giovanni Trapattoni tapi lebih memilih bermain dengan tick tack, tick tack, tuck tuck tuck.
Sepak bola yang teratur menjadi pemenangnya. Hasil yang sewajarnya jika melihat perjalanan tim Vamos Espana sejak babak penyisihan. Kuat, rapi dan presisi. Kekuatan tim mampu tampil dominan dari tim yang andalkan aksi individu.
Selamat Spanyol, terima kasih telah berbagi ilmu sepak bola. Siapa yang memegang permainan, dialah pemenangnya.
Marc Cucurella memang berambut rumit, namun dia lurus dalam menghentikan Messi. Tak perlu berbisik menutup mulut, dia lantang bergerak menjelajah lapangan. Tapi ingat, Cucurella sukses karena tak harus berhadapan dengan Lautaro Martinez. (*)
Johan Satrya
Penikmat Sepak Bola

