Pendidikan
SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Sambut Pelajar Asing asal Amerika Serikat
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Pelajar asing asal Amerika Serikat, Lucy Filipczak berniat menekuni bahasa dan budaya Indonesia selama belajar di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya.
Lucy merupakan peserta program Rotary Youth Exchange 2026 yang mengikuti pembelajaran di Smamda Surabaya selama setahun ke depan.
Kedatangan Lucy disambut hangat jajaran pimpinan sekolah, guru, wali kelas, dan para siswa kelas XI.1 Smamda Surabaya dalam Welcome Party di Smamda Tower lantai 2.
Mengenakan jas khas student exchange yang dipenuhi pin dari berbagai daerah, Lucy tampak antusias menyapa keluarga barunya di Smamda Surabaya. Bahkan, ia sudah fasih mengenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia.
“Nama saya Lucy Filipczak. Apa kabar semua?, saya senang berada di sini, dengan teman-teman baru, dan para guru yang akan mengajar saya di sini,” ujarnya saat diberi kesempatan mengenalkan diri di hadapan pimpinan sekolah, guru, dan teman sekelas.
Selama belajar di Smamda Surabaya, Lucy mengaku akan belajar bahasa Indonesia dan budaya tradisional Indonesia, termasuk agama sebagai bentuk toleransi, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial maupun ekstrakurikuler. Selain itu, ia juga memiliki konsekuensi karena harus jauh dari orang tua di Amerika Serikat.
“Saya belajar bahasa Indonesia mungkin sekitar 3 bulan terakhir, sepanjang hari, sebelum berangkat ke sini. Saya tahu Indonesia dari kerabat dan saudara saya, terutama terkenal dengan batik khas Indonesia,” katanya.
Kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Mukhlasin ST MPd menjelaskan, student exchange program kerja sama dengan Rotary Club of Sidoarjo Persada ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat pertukaran budaya antarnegara.
Menurutnya, kerja sama ini telah terjalin sejak sembilan tahun lalu, dan dinilai terus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
“Kerja sama ini sudah berjalan sembilan tahun dan perkembangannya sangat positif. Kita saling mengisi, anak-anak kita dikirim ke luar negeri, dan siswa dari luar negeri juga ditempatkan di tempat kita,” jelasnya.
Mukhlasin menegaskan, program ini membuka ruang bagi siswa untuk terbiasa berkomunikasi dan berkolaborasi di tingkat global.
Sekolah ingin membentuk lulusan yang tidak hanya menjadi warga negara Indonesia, namun juga warga dunia (global citizen) yang peduli terhadap berbagai isu global, seperti perdamaian dan perubahan iklim.
Selain itu, pentingnya mengenalkan nilai-nilai Islam yang ramah dan toleran kepada peserta pertukaran.
“Kacamata orang Barat kadang menganggap Islam identik dengan hal-hal negatif. Ini yang ingin kita ubah. Melalui interaksi langsung, kita ingin menunjukkan bahwa Islam itu ramah, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dunia,” tegasnya.
Mukhlasin menyebut, program ini sejalan dengan nilai utama (our value) Smamda Surabaya, yakni Dedicate, serta semangat sekolah di usia ke-51 untuk terus menginspirasi, berinovasi, dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Chair Rotary Youth Exchange (RYE) District 3420 Indonesia Enny Ambarsari mengatakan, kemitraan dengan Smamda Surabaya telah terjalin sejak 2016.
“Kami bekerja sama dengan Smamda sejak tahun 2016. Waktu itu satu anak kita kirim ke Brasil dan selanjutnya kerja sama terus berlanjut. Sempat terhenti saat pandemi pada 2020 hingga 2021, kemudian berjalan kembali,” ungkapnya.
Enny menjelaskan, Smamda secara konsisten menjadi sekolah tujuan bagi peserta pertukaran dari berbagai negara. Sebelum Lucy dari Amerika Serikat, sekolah ini juga telah menerima siswa dari Belgia dan Prancis.
Menurutnya, penempatan peserta merupakan kewenangan penuh komite Rotary Youth Exchange. Salah satu pertimbangannya adalah prinsip resiprokal, yakni sekolah yang mengirim siswa ke luar negeri akan menjadi tempat penempatan peserta inbound.
“Kenapa kami pilih sekolah ini, karena ada satu anak yang berangkat dari sekolah ini ke luar negeri. Sistemnya resiprokal, sehingga anak yang berangkat dapat digantikan oleh peserta inbound di sekolah yang sama,” jelasnya.
Meski demikian, prinsip resiprokal bukan satu-satunya pertimbangan. Rekam jejak kerja sama yang baik dan proses kurasi menjadi alasan Rotary terus mempercayakan penempatan peserta di Smamda Surabaya.
Enny menegaskan, program Rotary Youth Exchange berlangsung selama 10 hingga 11 bulan atau satu tahun akademik dengan menggunakan visa pelajar. Selama mengikuti program, peserta diwajibkan fokus menempuh pendidikan dan tidak diperkenankan bekerja.
Untuk memperkaya pengalaman budaya, peserta tidak tinggal di asrama, melainkan bersama keluarga angkat (host family). Selama satu tahun, setiap peserta akan tinggal bersama tiga keluarga angkat yang berbeda.
“Satu tahun anak akan berpindah tiga kali. Biasanya sampai Desember, lalu Januari hingga Maret, dan April sampai mereka pulang. Kami ingin anak mendapatkan banyak pengalaman dan perspektif berbeda, misalnya dari keluarga dokter, dosen, hingga insinyur,” jelasnya.
Rotary Youth Exchange merupakan program pertukaran budaya (cultural exchange), bukan pertukaran akademik formal maupun program beasiswa. Karenanya, peserta tidak dibebani target akademik tertentu.
Namun, setiap peserta wajib mempelajari Bahasa Indonesia. Sehingga, hal itu menjadi alasan Rotary memilih sekolah reguler nasional, bukan sekolah internasional.
“Bahasa Indonesia wajib. Kami tidak bisa menaruh anak di sekolah internasional karena di sana sepenuhnya menggunakan Bahasa Inggris. Bahasa adalah bagian dari budaya. Kalau tidak menguasai bahasa, mereka tidak bisa melakukan pertukaran budaya,” pungkasnya. (aci)



