Vihara Dhammajaya Surabaya Gelar Program Pabbajja Samanera Diikuti 17 Calon Bhiksu

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Sebanyak 17 umat Buddha menjalani Program Pabbajja Samanera Umum VIII di Vihara Dhammajaya Surabaya, Sabtu (11/7/2026).

Pabbajja Samanera merupakan kegiatan untuk melatih umat Buddha mempraktikkan kehidupan meninggalkan keduniawian selama dua pekan.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Bhikkhu Cittasilo menyampaikan Pabbajja dalam literatur pali mengacu pada tindakan meninggalkan kehidupan berumah menuju kehidupan tanpa rumah.

Sebanyak 17 Samanera atau calon biksu ini berusia mulai yang termuda 11 tahun, dan tertua 66 tahun, serta menjalani Penahbisan Samanera yang dilakukan Upajjhāya Y M Bhikkhu Sukhito Mahathera di Vihara Dhammajaya Surabaya, dan disaksikan orang tua dari masing-masing peserta.

Baca Juga:  Ratusan Umat Buddha Rayakan Hari Raya Waisak di Vihara Dhamma Jaya Surabaya

Peserta Pabbajja ini wajib mencukur habis rambut, alis, kumis dan jenggot. Serta, melepaskan pakaian umat awam, menggantinya dengan jubah, hal ini dimaksudkan sebagai pelepasan keduniawian, mengikuti langkah Guru Agung Sang Buddha.

“Materi yang juga diberikan adalah meditasi, samanera-sikkha, pokok dasar agama Buddha, riwayat hidup guru agung sang Buddha, serta yang lain. Pelajaran-pelajaran ini akan diberikan para bhikkhu dan pembicara yang mumpuni dalam bidangnya,” ujarnya.

Dalam mengikuti Pabbajja, semua peserta mengikuti aktivitas dan jadwal yang telah ditentukan. Yakni, bangun pukul empat pagi untuk mulai bermeditasi, mengembangkan batinnya, mengikuti puja bakti pagi, kemudian mengambil mangkok (patta), dan menerima derma makanan dari masyarakat, mendapatkan pendidikan dari para Bhikkhu, serta melakukan puja bakti malam.

Baca Juga:  Pengecoran Kelima Rupang Buddha Nusantara di Vihara Dhamma Jaya Surabaya Dihadiri 43 Bhikkhu Sangha

Kehidupan Samanera disokong oleh umat. Setiap harinya, para Samanera makan hanya dua kali, yakni pagi pukul 07.00 WIB dan siang pukul 11.00 WIB.

Selain itu, diperbolehkan juga hanya makan satu kali, setelah melalui tengah hari, hanya mengonsumsi minuman saja seperti air mineral, teh dan kopi.

Tidak boleh makan malam, apalagi mengemil. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan, serta mempermudah kehidupan sebagai Samanera.

Dalam mengikuti Pabbajja, para Samanera juga diberikan pendidikan dengan penekanan keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Baca Juga:  Perancis Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026, Singkirkan Maroko Lewat Gol Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele

Selain itu, memiliki attitude dan etika sosial yang baik. Seperti sopan santun dalam berperilaku, bisa menghargai orang lain, memiliki etika yang baik kepada orang tua, teman, saudara, dan orang lain. Kemudian, bisa mandiri, memiliki tingkah laku yang pantas, baik ketika sedang sendiri maupun bersama orang lain.

“Tingkah laku yang dimaksud bukan hanya tentang perbuatan saja, tetapi dimulai dari pikiran, serta ucapan. Bisa hidup disiplin dalam segala hal, mempunyai karakter yang baik, bisa hidup mandiri di atas kaki sendiri, mempunyai mental yang kuat, tidak manja,” ungkapnya.

Selanjutnya, para peserta akan mengikuti Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2026 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (bersama-sama membaca Kitab Suci Tipitaka) pada Jumat hingga Minggu (24-26/7/2026), serta dilanjutkan dengan pengembalian latihan, Senin (27/7/2026).

Kegiatan ITC sangat kental dengan penguatan nilai-nilai keagamaan Buddha, sehingga diharapkan bisa memperkokoh aspek spiritual umat maupun persatuan bangsa. (aci)