Ratusan Umat Buddha Rayakan Hari Raya Waisak di Vihara Dhamma Jaya Surabaya

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Ratusan umat Buddha memadati Vihara Dhamma Jaya Surabaya untuk memperingati detik-detik Tri Suci Waisak 2570 BE/2026, Minggu (31/5/2026).

Tradisi ritual Pradaksina menjadi rangkaian dalam peringatan Hari Raya Waisak 2026 yang diikuti lebih dari 500 umat Buddha di Surabaya. Ritual Pradaksina menjadi salah satu bentuk penghormatan spiritual tertinggi dalam ajaran Buddha.

Dalam ritual ini, ratusan umat Buddha berjalan tanpa alas kaki, mengenakan pakaian atasan putih dan bawahan hitam sebagai lambang kemurnian.

Diawali dengan bhikkhu dan pandita di barisan paling depan, ritual Pradaksina diikuti ratusan umat Buddha dengan berjalan perlahan mengelilingi vihara sebanyak tiga kali searah jarum jam.

Baca Juga:  Begini Pesan Wihara Dharma Bhakti Sidoarjo untuk Umatnya di Hari Raya Waisak 2021

Mereka membawa bendera merah putih, bendera buddhis, lilin, bunga, buah, hingga bunga sedap malam, serta dalam suasana penuh ketenangan, sembari membaca paritta (doa-doa suci) dan menunjukkan sikap anjali (tangan dirangkap di dada).

Gerakan searah jarum jam ini memiliki makna mendalam yang mewakili arah pergerakan matahari, simbol keberuntungan, harmoni, dan jalan menuju masa depan yang lebih cerah.

Konsep ini bahkan memiliki hubungan filosofis dengan simbol Swastika, yang mewakili keseimbangan dan keberuntungan dalam ajaran Buddha.

Baca Juga:  6.000 Tiket Ludes, HJKS ke-733 Jadi Bukti Bangkitnya Dunia Otomotif Surabaya

Pendiri Vihara Dhamma Jaya Surabaya Romo Widya Kusuma mengatakan, ritual Pradaksina ini sebagai penghormatan kepada sang Buddha, dan sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada sang Buddha yang dinilai telah memberikan pelajaran kepada umat manusia.

“Perayaan hari suci waisak itu merupakan momentum suci untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan sang Buddha, yaitu memperingati kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan parinibbāna atau wafat,” ujarnya.

Romo Widya menegaskan, Hari Raya Waisak tahun ini untuk mengajak kembali seluruh umat untuk mengingat nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kedamaian, dan pengendalian diri, mengingat dunia saat ini dinilai penuh persoalan dan perpecahan.

Baca Juga:  Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Mantapkan Aglomerasi Wisata Borobudur-Kopeng-Rawa Pening

“Ajaran Buddha mengingatkan perdamaian itu berasal dari hati dan pikiran kita, maka melalui Waisak, umat Buddha diimbau untuk memperkuat sila, meditasi (pengendalian pikiran), dan perbuatan baik agar dapat memberikan manfaat kepada sesama dan lingkungannya,” tegasnya.

Romo Widya berharap semangat Waisak dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat untuk mempererat persaudaraan, menjaga toleransi, dan bersama-sama menciptakan kehidupan yang damai dan penuh kebajikan.

“Semoga cahaya Waisak menerangi hati semua makhluk, membawa kedamaian, kebahagiaan, dan kebijaksanaan bagi dunia,” ungkapnya.

Berbeda dengan perayaan Waisak tahun lalu yang digelar pada malam hari, tahun ini Waisak digelar pada siang hingga menjelang sore hari karena menyesuaikan munculnya bulan purnama. (aci)