Mustela Kampanye dan Deteksi Dini Penyakit Kulit Kronis Dermatitis Atopik pada Anak

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Dermatitis atopik atau eksim masih menjadi salah satu penyakit kulit kronis yang banyak dialami anak-anak.

Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kulit kering, kemerahan, dan rasa gatal, namun juga dapat mengganggu kualitas tidur hingga memengaruhi aktivitas sehari-hari anak apabila tidak ditangani sejak dini.

Kondisi ini sering kali muncul sejak usia dini, bersifat genetik, dan dapat memengaruhi kualitas hidup tidak hanya anak, namun juga seluruh keluarga.

Bagi orang tua, dermatitis atopik bukan sekadar masalah kulit. Tangisan yang sulit ditenangkan, anak yang terus terbangun di malam hari, rasa khawatir melihat kulit yang terus meradang, semua ini menjadi bagian dari perjalanan yang sering kali dilalui tanpa pemahaman yang cukup.

Menurut data American Academy of Dermatology, diperkirakan satu dari lima anak mengalami dermatitis atopik. Risiko ini dapat meningkat pada anak dengan riwayat alergi, asma, atau eksim dalam keluarga.

Baca Juga:  Fakultas Keperawatan Unair Perkuat Kolaborasi Global melalui International Nursing Conference 2026

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit ini, Mustela menggelar kegiatan edukasi bertajuk “Together for Atopic Skin” di The Westin Hotel Surabaya.

Kegiatan yang dikemas dalam Talk Show Session ini menghadirkan tenaga medis yang memberikan informasi mengenai gejala, penanganan, serta pentingnya menjaga kesehatan skin barrier.

Yakni, dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dr FX Clinton SpDV, serta dokter spesialis anak dr Fihzan Ginting MKed(Ped) SpA.

dr FX Clinton mengatakan, dermatitis atopik bukan sekadar masalah kulit kering. Namun, penyakit ini terjadi akibat gangguan pada lapisan pelindung kulit (skin barrier) yang disertai proses peradangan sehingga kulit menjadi lebih sensitif.

Baca Juga:  Tim Robotika SMA Labschool Unesa Sabet 3 Gelar Juara World Robotic for Peace Singapura 2026

“Pada kondisi ini terjadi gangguan pada skin barrier dan peradangan, sehingga kulit menjadi sangat sensitif dan tidak nyaman, terutama pada anak yang belum mampu mengungkapkan keluhannya,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).

Sedangkan, dr Fihzan Ginting MKed(Ped) SpA menegaskan, keterlambatan penanganan dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan anak. Rasa gatal yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu waktu istirahat, memengaruhi suasana hati, bahkan berdampak pada hubungan anak dengan orang tua.

“Orang tua diimbau mengenali gejala sejak awal, seperti munculnya ruam kemerahan yang berulang pada area pipi, dahi, lipatan tangan, maupun lipatan kaki. Jika gejala tersebut muncul, konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan secara tepat,” tegasnya.

dr Fihzan menyebut, dermatitis atopik dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari genetik, lingkungan, hingga sistem kekebalan tubuh.

Karena bersifat kronis, perawatan kulit perlu dilakukan secara konsisten, termasuk menjaga kelembapan kulit setiap hari, menghindari paparan suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin, serta menggunakan produk perawatan yang sesuai untuk kulit sensitif.

Baca Juga:  Sonia Elvira Salim Pilih Kuliah PPDS di Unusa meski Satu-satunya Mahasiswa Non Muslim

Menurutnya, perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan keseimbangan mikrobiom kulit memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kulit.

“Ketidakseimbangan mikroorganisme pada permukaan kulit dapat memicu peradangan, sehingga keluhan dermatitis atopik menjadi lebih berat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Brand Manager Mustela Indira Natalia mengatakan, masih banyak orang tua yang belum memahami perbedaan antara kulit kering biasa dengan dermatitis atopik.

Menurutnya, peningkatan literasi kesehatan diperlukan agar gejala dapat dikenali lebih awal dan anak memperoleh penanganan yang sesuai.

Selain menjadi sarana penyampaian informasi, kegiatan edukasi ini juga membuka ruang diskusi antara tenaga medis dan para orang tua untuk berbagi pengalaman mengenai perawatan kulit atopik.

Melalui peningkatan pemahaman masyarakat, diharapkan dermatitis atopik dapat dikenali lebih dini, sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat dan dampaknya terhadap kualitas hidup anak maupun keluarga dapat diminimalkan. (aci)