Berita Sidoarjo
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono Kunjungi TPA Sidoarjo, Prihatin Sampah Mikro Plastik

SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Bambang Haryo Soekartono, anggota DPR RI berkunjung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Griyo Mulyo, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Senin (15/9/2025). Pria yang akrab disapa BHS ini prihatin banyaknya sampah mikro plastik yang masuk ke TPA Jabon.

BHS mengatakan, dirinya sangat konsen terhadap masalah lingkungan ini. Ia mendapat penjelasan dari pengelola TPA Griyo Mulyo tentang banyaknya sampah mikro plastik yang masuk. Sampah-sampah tersebut berasal dari rumah tangga dan kegiatan perdagangan non formal seperti pasar.

“Sampah mikroplastik ini terurai dalam waktu yang sangat lama, maka itu saya mengimbau agar masyarakat semakin sadar lingkungan,” tutur politisi Gerindra ini.

Baca Juga:  Wabup Sidoarjo Mimik Idayana Ajak Warga Stop Buang Sampah di Sungai

Ia berpesan agar warga memilah sampah dari rumah agar tidak hanya buang di tempat sampah, diambil petugas dan dikirim ke TPA atau dibakar di TPA. “Masalah lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab instansi terkait, namun juga masyarakat,” jelasnya

Sementara itu Kepala DLHK Kabupaten Sidoarjo, Bahrul Amig mengatakan, sampah mikroplastik terdapat pada kertas minyak, bungkus mie instan hingga popok. Sampah mikroplastik ini membutuhkan waktu seratus tahun lebih untuk terurai.

Baca Juga:  Awali Dies Natalis ke-65, ITS Gelar Jalan Sehat dan Penanaman Pohon di Lingkungan Kampus

Ia menambahkan, pada Agustus 2025, rata-rata sampah yang masuk ke TPA Jabon berkisar 570 ton per hari. Ia merinci, 50 persen dari sampah tersebut merupakan sampah organik, 10 persen sampah anorganik yang punya value karena bisa didaur ulang atau bisa dijual kembali.

“Nah yang menjadi problem adalah sampah anorganik yang rendah nilai seperti sterefoam, plastik multiplayer hingga popok serta mikroplastik yang kapasitasnya 40 persen dari total sampah yang masuk,” terang Amig.

Baca Juga:  STORIA 2025 Fakultas Kedokteran Gigi Unair Padukan Pengabdian Ilmiah dan Olahraga

Hingga kini, masalah tersebut masih merupakan problem besar karena belum ada industri yang bisa menyerap sampah tersebut dalam jumlah besar atau teknologi untuk mengatasinya. “Di TPA ini tingginya sekitar 15 meter dan didominasi sampah-sampah non value,” terangnya.

Amig berharap kepada produsen atau industri agar membuat kemasan makanan yang bisa didaur ulang. “Untuk masyarakat, kami berharap agar memilih produk-produk yang kemasanya ramah lingkungan sehingga umur TPA bisa lebih panjang,” pesannya. (sat)