Pendidikan
Kisah Yustina, Mahasiswi Katolik di Unusa, Rasakan Kuliah Penuh Toleransi hingga Lulus

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Menempuh studi di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yang mayoritas muslim, tidak membuat Suster (Sr) Yustina Klun Kolo SSpS yang beragama Katolik merasa dikucilkan atau dibeda-bedakan.

Mahasiswi lintas agama asal Kefamenanu/Wini, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu berhasil menyelesaikan studinya dan resmi dikukuhkan menjadi wisudawati Program Studi D4 Analis Kesehatan Unusa pada Wisuda XXI Pelantikan Ahli Madya, Sarjana, Magister dan Profesi di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (22/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Yustina diberi kepercayaan untuk berpidato mewakili para wisudawan dengan mengenakan pakaian kebesaran sebagai seorang biarawati lengkap dengan ‘jubahnya’.

Sebagai mahasiswi beragama Katolik, Yustina mengaku sempat khawatir saat kali pertama memulai studi di Unusa. Namun, pengalaman yang ia rasakan justru berbanding terbalik dengan kekhawatiran tersebut.

Baca Juga:  Unusa Kukuhkan 227 Wisudawan, Rektor Ingatkan Tantangan Dunia Kerja di Era Disrupsi

“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang,” ujar perempuan kelahiran Dili, 5 Juli 1994 itu.

Bagi anak keempat dari tujuh bersaudara itu, pengalaman tersebut justru memperkaya perspektifnya sebagai mahasiswi lintas agama.

“Saya belajar memahami nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis,” ungkap putri dari pasangan suami istri Laurensius Pauf Kolo dan Maria Kebo itu.

Pengalaman alumni dari SMA Negeri Manamas, NTT itu menjadi representasi konkret implementasi agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) dalam sektor pendidikan tinggi.

Baca Juga:  Unusa Perluas Kolaborasi Riset Internasional dan Magang ke Luar Negeri

Melalui pendekatan ini, kampus tidak hanya menjadi ruang akademik, namun juga ruang sosial yang membentuk karakter kebangsaan dan kemanusiaan mahasiswa.

Salah satu bentuk konkret implementasi nilai inklusivitas di Unusa adalah melalui mata kuliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Kurikulum ini menjadi bagian dari strategi institusi dalam memperkuat moderasi beragama di lingkungan pendidikan tinggi.

Selain kurikulum, faktor kunci keberhasilan inklusivitas di Unusa terletak pada peran dosen dan tenaga kependidikan. “Dosen dan tenaga kependidikan bersikap profesional, adil, dan tidak membeda-bedakan mahasiswa,” terangnya.

Baca Juga:  Dua Mahasiswi Unusa Juara Nasional Jujitsu SLC Cup 2026 Road to Japan

Pengalaman Yustina menunjukkan, keberagaman di lingkungan pendidikan tinggi dapat menjadi kekuatan dalam membangun harmoni sosial. “Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. “Perbedaan agama, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai, sehingga tercipta kehidupan yang damai dan harmonis,” katanya.

Di tengah tantangan polarisasi sosial dan meningkatnya isu intoleransi, pendidikan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan nilai.

Unusa menunjukkan, kampus dapat menjadi ruang pembelajaran akademik, laboratorium sosial keberagaman, dan pusat pembentukan karakter moderat dan inklusif.

Kini, Yustina sudah mengabdikan diri dan bekerja di RSK Budi Rahayu Blitar. Kisah Yustina menjadi bukti, pendekatan berbasis nilai, jika dijalankan secara konsisten, mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul, namun juga relevan dengan kebutuhan global. (aci)