Berita Sidoarjo
Pameran Sidoarjo in Flux 2026: Ketika Seni Merekam Wajah Kota dan Luka Industrialisasi

SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Sebanyak 50 karya seni lukisan, video, dan instalasi dipamerkan dalam Sidoarjo in Flux 2026 di Rumah Budaya Malik Ibrahim. Pameran tersebut menghadirkan karya dari 25 seniman, mulai dari seniman lokal hingga seniman mancanegara.

Karya yang ditampilkan tidak hanya berasal dari seniman Sidoarjo dan sejumlah daerah di Indonesia. Seniman dari Jepang dan India turut ambil bagian dalam pameran yang memasuki tahun kedua tersebut.

Beragam karya itu mengangkat persoalan kehidupan perkotaan, perkembangan industri, hingga perubahan lingkungan yang menyertainya.

Tim Artistik Sidoarjo in Flux, Evira Putri mengatakan, tema industrialisasi menjadi salah satu isu yang cukup kuat dalam pameran tahun ini.

Baca Juga:  Kolaborasi ZumenArt Surabaya dan House of Hope Hadirkan Pameran Lukisan Karya Seniman Cilik

Sejumlah seniman mencoba merekam perubahan lingkungan dan kehidupan masyarakat yang terjadi seiring perkembangan kawasan industri dan perkotaan.

Salah satunya karya video seniman Jepang, Osamu Matsuda. Melalui karya tersebut, Matsuda menampilkan gambaran kawasan industri dengan cerobong asap serta tumpukan sampah dan barang bekas di salah satu kota di Jawa Timur.

Visual tersebut menggambarkan jejak industrialisasi sekaligus persoalan lingkungan yang muncul di sekitarnya.

Baca Juga:  Pameran MTQ Nasional 2026 di Semarang Catat Transaksi Sekitar Rp500 Juta per Hari

“Video tersebut memperlihatkan dampak industri dengan cerobong asap serta tumpukan sampah dan barang bekas,” kata Evira, Senin (5/10/2026).

Persoalan lingkungan juga terlihat melalui sejumlah karya seniman lokal yang mengangkat masalah sampah plastik.

Karya-karya tersebut mengajak pengunjung melihat kembali bagaimana aktivitas manusia dan perkembangan perkotaan dapat meninggalkan persoalan baru bagi lingkungan.

Baca Juga:  120 Lukisan akan Dipamerkan di Artos Kembang Langit di Banyuwangi

Salah satu yang juga menarik perhatian adalah seni instalasi berbentuk capung yang dibuat dari material besi. Capung dipilih sebagai simbol, karena keberadaannya kini semakin jarang dijumpai di sejumlah lingkungan. Kondisi itu berkaitan dengan semakin tercemarnya sungai dan sumber-sumber air yang menjadi habitat capung.

Melalui berbagai karya tersebut, Sidoarjo in Flux 2026 tidak sekadar menjadi ruang untuk menikmati karya seni. “Pameran ini juga menjadi media bagi para seniman untuk merekam perubahan kota, mempertanyakan dampak industrialisasi, serta mengajak masyarakat lebih peka terhadap persoalan lingkungan di sekitarnya,” imbuh Putri. (sat)