MTQ Nasional 2026
Pameran MTQ Nasional 2026 di Semarang Catat Transaksi Sekitar Rp500 Juta per Hari
SEMARANG, SURYAKABAR.com – Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah, tak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mesin penggerak ekonomi.
Melalui Pameran Serambi Nusantara yang diikuti 150 stan dari berbagai penjuru tanah air, para pelaku UMKM sukses membukukan estimasi transaksi harian sekitar Rp500 juta.
Sebanyak 150 stan itu terdiri 24 stan provinsi, 70 stan kabupaten/ kota, 20 stan kuliner, 10 stan mitra, 12 stan kementerian, dan 14 stan mandiri. Pameran digelar di Kawasan Parkir Simpanglima Kota Semarang, 12-19 September 2026.
Produk yang ditampilkan mencerminkan kekayaan masing-masing daerah, mulai dari makanan, kerajinan, fesyen, kain tradisional, hingga produk kreatif lainnya.
“Per hari mereka menghasilkan pendapatan sekitar Rp500 juta. Kalau satu minggu sudah berapa? Bagus sekali ini,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, seusai meninjau pameran tersebut, Senin (14/9/2026).
Dalam tinjauan itu, Luthfi mendatangi sejumlah gerai UMKM. Dia melihat lebih dekat produk unggulan daerah, mulai dari kerajinan, fesyen, aksesori, kuliner, hingga oleh-oleh khas dari berbagai wilayah di Indonesia.
Menurut Luthfi, dengan tingginya transaksi dalam gelaran itu menunjukkan, penyelenggaraan MTQ tidak hanya memberikan dampak dari sisi keagamaan dan sosial, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Ini membuktikan melalui MTQ, UMKM ikut tumbuh dan berkembang. Mereka yang berasal dari berbagai provinsi serta kabupaten/ kota dapat bertemu, sehingga kita bersama-sama merasakan perputaran ekonomi di wilayah Jawa Tengah,” ujar Luthfi.
Melalui kegiatan tersebut, momentum MTQ diharapkan memperluas pasar UMKM, sekaligus membangun jejaring usaha antardaerah yang tetap berlanjut setelah perhelatan selesai.
Tingginya antusiasme pengunjung juga dirasakan peserta asal Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Sekretaris I Dekranasda Mimika, Lintje Siwabessy Paiman, mengaku sempat kewalahan melayani masyarakat yang mendatangi stan mereka.
“Hari pertama kami sampai kewalahan. Mungkin masyarakat ingin melihat apa saja yang dibawa teman-teman dari Papua,” tuturnya. (*)

