Pendidikan
STENDHAL Exhibition 2.0 Pamerkan Ratusan Karya Seni dan Desain Mahasiswa DKV Unesa di BG Junction Surabaya
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Ratusan karya seni dan desain dari mahasiswa S1 Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dipamerkan di Pameran STENDHAL 2026 atau STENDHAL Exhibition 2.0 yang berlangsung di BG Junction Mall Surabaya, Kamis dan Jumat (11-12/6/2026).
Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa Syaiful Anam PhD mengapresiasi gelaran pameran yang diikuti mahasiswa semester 4 DKV Unesa ini.
Menurutnya, pameran ini mencakup beberapa aspek, terutama mata kuliah yang berbasis project dan menjadi salah satu pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya inovasi yang kreatif, dan berdampak kepada masyarakat luas, hingga mendorong mahasiswa untuk menjadi entrepreneur.
“Impact full-nya ke luar, artinya mata kuliah ini tidak hanya berhenti menjadi produk yang hanya masuk etalase atau gudangnya prodi (program studi) tapi lebih daripada itu, harus punya impact dan SDGs yang langsung terkait dengan pameran ini, ada branding, quality education, partnership, dan SDGs,” ujarnya usai pembukaan STENDHAL Exhibition 2.0 di BG Junction Mall Surabaya, Kamis (11/6/2026).
Koordinator Program Studi Desain Komunikasi Visual Unesa Marsudi SPd MPd menegaskan, pameran ini merupakan hasil kolaborasi dari lima mata kuliah di DKV Unesa hingga menghasilkan karya produk inovasi yang luar biasa.
“Kolaborasi lima mata kuliah itu yaitu branding, kewirausahaan, teknologi cetak, metodologi penelitian, dan estetika,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana Stendhal Exhibition 2.0 Savinka Rahma Maulidya menjelaskan, pameran ini sengaja digelar di pusat perbelanjaan agar dikenal masyarakat luas. Terutama karya produk inovasi dari mahasiswa semester 4 DKV Unesa, bukan dari tugas akhir mahasiswa sebagai syarat kelulusan pada umumnya.
“Nah, ini kita mau membuktikan bahwa semester 4 juga bisa loh mau pameran, dibawa keluar biar masyarakat juga bisa menikmati pameran ini,” jelasnya.
Zaskia Masayu Adiba Mumtaz dan Clarissa Riadiana Fitri, perwakilan kelompok mahasiswa yang membuat inovasi bernama Karsa Fest mengaku memilih branding event karapan sapi yang dinilai belum memiliki grafik standar manual yang kuat.
Menurutnya, biasanya event karapan sapi yang menjadi tradisi masyarakat Madura itu, pengumumannya dilakukan hanya melalui poster dan tanpa adanya logo. Sehingga, dengan adanya logo karapan sapi, memiliki branding menjadi lebih kuat dan dikenal masyarakat lebih luas.
“Untuk awal riset kita menghabiskan waktu satu minggu, dua minggu berikutnya kita langsung riset ke Bangkalan. Untuk risetnya pokoknya satu bulan. Ini ada grafik standar manual, ada souvenir, ada maskot, dan kita mengembangkan filter TikTok bisa muncul maskot di belakang kita, ada gantungan kunci juga,” ungkapnya.
Zaskia menyebut, ia dan tim menyiapkan modal sekitar Rp 1 juta untuk menyiapkan produk hingga jadi dan dipamerkan. Selain itu, tim juga sebelumnya berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bangkalan.
“Merchandise ini kita jual mulai harga Rp 5 ribu, ada Rp 10 ribu, ada Rp 15 ribu. Kita rencananya membuka PO (pre order) lagi jika produk ini habis dan banyak peminatnya,” pungkasnya. (aci)



