Pendidikan
Institut STTS untuk Pertama Kali Resmi Miliki Tiga Guru Besar Bidang AI

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (STTS) untuk pertama kalinya memiliki tiga guru besar sekaligus.

Ketiga akademisi Institut STTS ini memiliki kepakaran di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dikukuhkan, Sabtu (22/8/2026).

Mereka adalah Prof Dr Ir Gunawan MKom Bidang Kecerdasan Artifisial (AI) Computational Linguistics dari Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi S1 Informatika, Prof Dr Ir Hj Endang Setyati MT Bidang Kecerdasan Artifisial (AI) Computer Vision dari Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi S2 Teknologi Informasi.

Serta, Prof Dr Ir Esther Irawati Setiawan SKom MKom Bidang Kecerdasan Artifisial (AI) Multimodal dan Multiplatform Data Analysis dari Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi S1 Sistem Informasi.

Selain menjadi penanda pencapaian jenjang akademik tertinggi bagi ketiganya, Institut STTS juga menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat arah pengembangan riset AI agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Prof Gunawan mengatakan, jabatan guru besar merupakan puncak jenjang akademik seorang dosen. Karenanya, pencapaian tersebut dinilai sebagai bagian dari capaian institusi dalam membangun lingkungan akademik yang mendorong dosen mengembangkan ilmu pengetahuan.

Baca Juga:  Mahasiswa iSTTS Bikin Kamus Visual Anak untuk Pahami Istilah Gaul

“Ini adalah tanggung jawab yang melekat kepada saya untuk lebih memberikan yang terbaik bagi mahasiswa secara khusus yang kami asuh di Institut STTS, baik S1, S2 maupun S3 demi kebaikan bangsa ini,” ujarnya.

Prof Gunawan menjelaskan, dalam risetnya mengenai Computational Linguistics, yakni bagaimana mengolah bahasa melalui komputasi atau ilmu komputer, yang kini melahirkan produk openAI seperti Chat GPT dan Gemini, yang kini juga dilengkapi dengan teks.

“Pada tiga tahunan terakhir ini, menggeser riset baik S1, S2 ke arah prompting. Prompt itu apa yang kita tulis ke Gemini atau Chat GPT. Tapi, karena ini kampus IT, prompting-nya ini kita lakukan di dalam Cloud, di dalam program komputer,” jelasnya.

Sedangkan, Prof Endang Setyati menekankan pencapaian guru besar tidak diraih seorang diri. Menurutnya, berbagai penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat yang dijalankannya selama ini melibatkan mahasiswa, dosen, dan banyak pihak lainnya.

Baca Juga:  Pemkab Banyuwangi dan ITB Perluas Kolaborasi Riset dan Inovasi Mulai Pertanian hingga Pariwisata

Dalam risetnya, ia meneliti mengenai Computer Vision, yakni openAI yang dilengkapi dengan gambar. Menurutnya, dari gambar-gambar tersebut ketika diunggah ke marketplace melalui Vision Transfer Learning karyanya dengan bantuan AI tersebut bisa langsung mengkategorikan secara otomatis. Mulai dari produk elektronik hingga fesyen.

“Alhamdulillah dari penelitian yang saya lakukan dengan mahasiswa bisa tembus di Q2. Dari bentuk barang itu dipecah-pecah dan dicampur seperti potongan puzzle. Ketika barang itu digabung ini benar-benar kerjaannya vision transfer learning,” ungkapnya.

Di sisi lain, Prof Esther Irawati Setiawan menegaskan, riset AI bukan bidang baru di lingkungan Institut STTS. Menurutnya, pengembangan teknologi tersebut telah dilakukan sejak 1992 dan terus berlanjut hingga saat ini.

“Artificial intelligence itu sudah ada lama di kampus kami. Sejak tahun 1992, sebenarnya AI sudah ada di kampus kami,” kata Kepala Program Studi Sistem Informasi Bisnis Institut STTS itu.

Baca Juga:  Guru Besar Unair Kembangkan Riset Air Liur untuk Deteksi Tumbuh Kembang Anak

Prof Esther menyebut, penelitiannya mengenai Multimodal dan Multiplatform Data Analysis, yakni menggunakan teks dan gambar dengan metode transfer learning untuk membandingkan berita palsu atau hoaks.

“Sebenarnya mulai dari tahun 2016, saya melakukan penelitian, saya juga dulu bimbingannya Pak Gunawan. Ini sebenarnya seperti Chatbot seperti yang era sekarang. Waktu saya S3 memulai dengan mendeteksi berita palsu dari sisi teks, namun ternyata dalam perkembangan berita palsu tidak hanya teks saja,” terangnya.

Menurutnya, pengembangan AI dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi para akademisi dengan bidang kepakaran yang berbeda. Hasil riset kemudian diarahkan agar dapat menjawab kebutuhan nyata di masyarakat. (aci)