Pendidikan
Guru Besar Unair Kembangkan Riset Air Liur untuk Deteksi Tumbuh Kembang Anak

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (FKG Unair) Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan drg SpKGA K-KGA mengembangkan hasil riset terbarunya mengenai potensi pengujian air liur untuk mendeteksi tumbuh kembang anak, termasuk pada anak dengan kondisi Down Syndrome.

Prof Sindy mengatakan, selama ini, menentukan waktu tumbuhnya gigi serta momen yang tepat untuk tindakan medis sering kali mengandalkan foto rontgen. Namun, penggunaan rontgen membawa risiko paparan radiasi yang sebisa mungkin dihindari pada anak-anak.

Melalui riset ini, Prof Sindy memanfaatkan hormon Dehydroepiandrosterone Sulfate atau DHEA-S yang terdapat dalam air liur.

“Hormon ini mencerminkan aktivitas kelenjar adrenal yang kadarnya meningkat seiring proses pematangan tubuh,” ujarnya, Senin (3/8/2026).

Prof Sindy menjelaskan, penggunaan hormon ini menjadi solusi yang aman bagi pasien anak. “Dengan kita pakai hormon yang ada di air liur ini, penelitian bisa dilakukan secara non-invasif, biasanya kalau kita mau lihat giginya kapan tumbuh, kita foto rontgen, namun itu kan ada paparan radiasi yang ingin kita hindari pada anak-anak,” jelasnya.

Prof Sindy menegaskan, riset ini diproyeksikan tidak hanya berhenti di laboratorium semata. Ia berharap, untuk mengembangkan alat ukur mandiri berupa diagnostic kit yang praktis di masa depan.

“Sebetulnya riset ini mau diarahkan untuk membuat diagnostic kit, yaitu alat yang bisa dipakai langsung oleh praktisi di lapangan seperti tes kehamilan. Begitu air liurnya diteteskan, kita bisa langsung melihat dan memprediksi kapan gigi anak akan tumbuh. Namun, memang prosesnya masih agak panjang karena kita mesti membuat alatnya terlebih dahulu,” tegasnya.

Selain memaparkan risetnya, Prof Sindy memberikan panduan bagi para orang tua dalam menjaga kesehatan rongga mulut anak.

Menurutnya, masalah karies gigi dipengaruhi empat faktor utama, yakni kualitas gigi, lingkungan, keberadaan mikroorganisme, serta faktor waktu.

“Kalau anak tidur malam hari sambil minum susu, itu akan menyebabkan karies di empat gigi depan yang kita sebut jenis nursing bottle syndrome. Jika susu formula saja sebenarnya tidak apa-apa, asal waktunya terputus dan segera dibersihkan agar tidak ada kesempatan terjadi fermentasi atau mengeluarkan asam yang merusak gigi,” ungkapnya.

Prof Sindy menyebut, pencegahan karies harus diawali sejak masa kehamilan melalui pemenuhan nutrisi vitamin dan mineral. Sebab, benih gigi anak sudah mulai terbentuk sejak usia kehamilan empat bulan. Selain itu, para orang tua diimbau untuk membawa anak ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.

“Kami menganjurkan orang tua membawa anak ke dokter gigi minimal enam bulan sekali. Jangan menunggu anak mengeluh sakit, karena kalau sudah sakit berarti lubangnya sudah dalam. Padahal, awal gigi berlubang itu ditandai dengan bercak putih yang hanya bisa diketahui oleh dokter gigi,” pungkasnya. (aci)