Pendidikan
Mahasiswa UK Petra Pamerkan Karya Tugas Akhir Lewat Innofashion Show 8
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Sebanyak 21 mahasiswa Desain Fashion dan Tekstil (DFT) Universitas Kristen (UK) Petra menampilkan 89 busana hasil karya tugas akhir dalam pagelaran Innofashion Show 8 di Oval Atrium Ciputra World Surabaya, mulai Jumat hingga Minggu (14-16/8/2026).
Mengusung tema besar “Zerith: Rise Beyond Zero”, Innofashion Show kali ini menggambarkan sebuah perjalanan dari ruang kosong menuju puncak tanpa batas, melahirkan karya yang bersifat abadi dengan nuansa distopia dan estetika futuristik.
Ketua Panitia Innofashion Show 8 Cicillia Josephine Setiady mengatakan, setiap koleksi yang ditampilkan lahir melalui proses riset dan eksplorasi yang panjang. Sehingga, setiap karyanya mampu menyampaikan cerita sekaligus memperlihatkan karakter dari masing-masing desainer.
“Innofashion Show 8 ingin menunjukkan bahwa setiap karya memiliki cerita di balik proses penciptaannya. Kami berharap, koleksi-koleksi yang ditampilkan tidak hanya dapat dinikmati dari sisi visual, tapi juga mampu menyampaikan pesan dan menginspirasi masyarakat,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).
Dari puluhan karya desainer muda yang ditampilkan membawa pesan mendalam dalam setiap untaian kainnya. Salah satunya, Febe Maureen Purwanto.
Karya yang diberi nama BEMAUR ini mengusung konsep ready-to-wear deluxe. Febe membuat BEMAUR dengan semangat untuk menghadirkan warisan budaya Indonesia dalam perspektif yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Terinspirasi dari kekayaan seni tari tradisional Indonesia, BEMAUR mengolah esensi, karakter, serta elemen visual dari berbagai tarian menjadi motif-motif kontemporer yang selaras dengan gaya hidup modern.
“Dalam koleksi perdananya ini, BEMAUR mengambil inspirasi dari tari tradisional Jawa Tengah yang kemudian diolah menjadi visual yang modern dan relevan,” ungkapnya.
Kemudian, desainer muda Kathleen Diandra Mudjianto yang mengusung tema Beneath the Garment, merupakan karya yang lahir sebagai wadah refleksi akan dampak konsumerisme dan kurangnya apresiasi akan busana.
Karya ini berawal dari keresahan Kathleen saat melihat industri fashion yang berkembang kian cepat dengan pola konsumsi masyarakat di bidang tekstil yang juga masih tinggi.
“Perancangan Beneath the Garment mendalami perkembangan kultur konsumerisme serta mengeksplorasi estetika era postmodern sebagai pendekatan visual yang relevan pada audiens. Selain itu, estetika pastiche dan fragmentation juga digunakan untuk mendukung narasi konsumerisme,” terangnya.
Koleksi Beneath the Garment ini hadir dalam tiga busana. Lewat karyanya itu, Kathleen ingin mengajak masyarakat untuk kembali memiliki kesadaran dan empati terhadap perjalanan busana, mulai dari produksi hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen.
Tujuannya agar masyarakat lebih menghargai dan bijak dalam membeli serta menggunakan produk-produk fashion.
Desainer muda selanjutnya adalah Eunica Shareen Dellamanda. Koleksi busana avant-garde karya Eunica ini diberi tajuk Lignum Mortis.
Mengambil nama dari bahasa Latin yang berarti “kayu yang mati”, koleksi ini mengangkat isu krusial mengenai deforestasi dan menyuarakan duka atas kepunahan hutan melalui estetika gotik yang kelam, tegas, dan sarat makna.
Visual karya diwujudkan melalui teknik manipulasi tekstil seperti slashing, burnt fabric, dan benang terurai sebagai representasi kerusakan hutan.
Desainer muda berikutnya, yakni Jessica Vanessa Putri. Ia menjelaskan, setiap makhluk hidup memiliki cara untuk bertahan di lingkungannya, termasuk ikan cupang yang dikenal mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi tanpa kehilangan karakter khasnya.
Inilah yang menjadi inspirasi bagi Jessica dalam merancang koleksi ready-to-wear deluxe bernama Noir Betta Form.
Koleksi ini berangkat dari pengamatannya terhadap bentuk tubuh, lapisan sirip, serta karakter ikan cupang hitam yang tegas namun tetap dinamis.
Konsep noir dipilih melalui dominasi warna hitam sebagai simbol kekuatan, ketegasan, sekaligus sisi misterius.
Karakter ikan cupang kemudian diterjemahkan ke dalam detail desain berupa fringe yang memanjang, layering, dan potongan asimetris yang menciptakan kesan mengalir layaknya pergerakan sirip di dalam air.
“Dalam karya ini, aku memadukan material synthetic leather dengan detail strap dan corsetry untuk menciptakan keseimbangan antara struktur yang kuat dan siluet yang tetap fleksibel. Seluruh busana dirancang dengan konsep adjustable sehingga dapat dikenakan dalam beberapa cara yang berbeda. Selain sebagai simbol kemampuan untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, pendekatan ini juga menjadi solusi dalam pemanfaatan deadstock,” jelasnya.
Sedangkan, desainer muda Starla Amanda Wannardi mengatakan, keindahan sering kali memiliki sisi lain yang tak terlihat.
Pemikiran itulah yang menjadi titik awal Starla dalam merancang koleksi The Desired One: Desire, Devotion, Mortality di bawah brand Sanctum of Stars.
Koleksi fashion couture kontemporer ini terinspirasi dari bunga atropa belladonna, tanaman yang memiliki pesona visual namun beracun, menjadikannya simbol pertemuan antara keindahan dan bahaya.
Melalui pendekatan bergaya Modern Gothic, Starla mengeksplorasi bagaimana dualitas tersebut dapat diterjemahkan ke dalam sebuah koleksi busana.
“Estetika Gothic bukan sekadar sesuatu yang identik dengan warna gelap, tapi juga mampu menggambarkan emosi, misteri, serta kekuatan yang dimiliki seorang perempuan,” ungkapnya.
Koleksi ini terdiri dari tiga look yang menggambarkan perjalanan sosok The Desired One melalui fase Desire, Devotion, dan Mortality.
Setiap busana merepresentasikan perubahan karakter perempuan yang menjadi pusat perhatian, dipuja karena pesonanya, namun tetap menyimpan sisi yang sulit dipahami.
Permainan siluet, detail, dan karakter visual dalam setiap rancangan memperlihatkan proses transformasi tersebut secara bertahap. (aci)



