Polytron Gagas Program Pelatihan dan Pendampingan Bisnis untuk Bantu UMKM Naik Level
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi sasaran utama produsen elektronik Polytron untuk memperluas pasar. Salah satunya, melalui program pelatihan dan pendampingan bisnis di Surabaya, Kamis (9/4/2026).
Head of Public Communication Polytron Vina Julita Wijaya mengatakan, Surabaya dipilih menjadi kota kedua setelah Jakarta untuk menggelar program ini.
Menurutnya, program ini merupakan inisiatif baru di tahun ini sebagai upaya mendekatkan perusahaan dengan pelaku UMKM, sekaligus memperkenalkan lini produk yang relevan untuk kebutuhan usaha.
“Selama ini Polytron lebih dikenal dengan produk rumah tangga. Lewat program ini, kami ingin menjadi partner dan solusi bagi UMKM,” ujarnya.
Vina menjelaskan, melalui program ini, Polytron juga berkolaborasi dengan platform riset Populix menghadirkan “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level” di Surabaya.
Menurutnya, buku panduan ini menyajikan data riset lapangan secara komprehensif untuk mematahkan berbagai mitos yang selama ini menghambat UMKM, sekaligus meredefinisikan langkah nyata untuk memajukan bisnis.
“Melalui pembedahan data dari Handbook tersebut, Polytron dan Populix menyoroti realitas dari ekosistem UMKM kuliner di Indonesia,” jelasnya.
Berdasarkan data, 80 persen pelaku UMKM adalah kaum perintis, di mana 57 persen termotivasi oleh keinginan untuk mandiri, dan 46 persen melihat adanya peluang pasar yang menjanjikan. Lanskap ini didominasi generasi muda, yakni Gen Z dan Milenial sebesar 65 persen.
Dari segi pendanaan, mayoritas mengandalkan tabungan pribadi (63 persen) dan modal bertahap dari keuntungan usaha (46 persen), yang menunjukkan kemandirian sekaligus kerentanan finansial di tahap awal.
Dalam perjalanannya, banyak UMKM terhambat karena asumsi yang keliru. Handbook ini secara tajam mematahkan lima mitos utama, disandingkan langsung dengan fakta lapangan. Yakni, harus memiliki banyak cabang, pinjaman modal susah didapat, harga produk semakin mahal, memiliki omzet besar, dan harus menggunakan peralatan mahal.
Sedangkan, definisi baru UMKM “Naik Level” berdasarkan temuan tersebut, Polytron meredefinisikan “Naik Level” menjadi empat pilar yang terukur.
Pertama, Konsep yakni memikirkan identitas usaha, kenyamanan pelanggan, dan kesan profesional meski dalam skala rumahan.
Kedua, Sistem yakni menggantikan kerja manual secara perlahan dengan sistem digital yang minim kesalahan. Ketiga, Aset yakni berpikir jangka panjang dengan memilih aset yang bisa menjadi pegangan usaha dalam waktu lama.
Keempat, Ekspansi yakni membuka peluang baru dan diversifikasi tanpa membuat usaha yang sudah berjalan keteteran. (aci)


