Ramadhan 2026
Pakar Psikologi Unesa Beberkan Manfaat Puasa bagi Penguatan Regulasi Emosi dan Kesehatan Mental
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Puasa Ramadhan, selain memiliki dimensi spiritual yang mendalam sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta, juga menyimpan manfaat yang luar biasa bagi penguatan kesehatan mental manusia.
Dari segi psikologi, praktik menahan lapar dan dahaga ini merupakan momentum penguatan regulasi emosi, kontrol diri, serta ketahanan mental.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Fpsi Unesa) Dr Diana Rahmasari SPsi MSi Psikolog mengatakan, puasa dapat dipahami sebagai latihan self-regulation atau regulasi diri yang komprehensif.
“Melalui ibadah ini, seseorang belajar secara sadar untuk menunda dorongan, mengelola impuls, serta mengarahkan perilaku sesuai dengan nilai dan tujuan luhur yang diyakini,” ujar Dr Diana Rahmasari SPsi Psikolog.
Menurutnya, dalam perspektif psikologi, kemampuan mengendalikan lapar dan emosi ini berkaitan erat dengan fungsi eksekutif otak yang melatih otot kontrol diri seseorang agar semakin kuat dan stabil.
“Kematangan kontrol diri tersebut beririsan langsung dengan kemampuan emotional regulation, yakni kecakapan dalam mengelola perasaan agar tetap adaptif meski berada di bawah tekanan,” ungkapnya.
Diana menyebut, puasa menjadi ruang latihan yang sangat baik untuk meningkatkan distress tolerance, yakni kemampuan bertahan dalam situasi tidak nyaman tanpa bereaksi secara berlebihan.
Menurutnya, di tengah rutinitas harian yang sering kali penuh distraksi, Ramadhan mendorong munculnya mindfulness atau kesadaran penuh yang memungkinkan individu merespons stres secara lebih proporsional melalui proses refleksi diri.
“Secara lebih luas, Ramadhan juga meningkatkan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) melalui penguatan relasi sosial,” terangnya.
Selain itu, kegiatan berbagi dan ibadah bersama yang intens selama bulan suci Ramadhan ini memperkokoh sense of belonging atau rasa keterhubungan sosial, yang dalam teori psikologi berperan vital sebagai penekan tingkat stres.
Menariknya, manfaat ini juga didukung bukti ilmiah dari kacamata neuroscience. Fakultas Psikologi Unesa secara aktif mengedukasi masyarakat mengenai bagaimana puasa memicu neuroplastisitas, kemampuan otak membentuk koneksi baru, serta neurogenesis.
Proses ini memperkuat sinapsis atau koneksi antarsel saraf yang berdampak pada peningkatan konsentrasi dan ketangguhan otak dalam beradaptasi terhadap tekanan, yang dikenal dengan istilah neurokompensasi.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat, Fakultas Psikologi Unesa juga menyosialisasikan layanan Day Care yang dirancang berbasis keilmuan psikologi perkembangan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara profesional.
Melalui pendekatan yang menyeluruh ini, puasa dipahami sebagai sarana penguatan mental yang luar biasa jika dijalankan secara proporsional.
Meski demikian, bagi individu dengan kondisi psikologis tertentu, konsultasi profesional tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental yang optimal. (aci)



