Pendidikan
FK Unair Perluas Kerja Sama Internasional di Bidang Radiologi dengan Universiti Kebangsaan Malaysia
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) terus memperluas jejaring akademik dan kolaborasi internasional.
Kali ini dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Ini ditandai dengan pengukuhan salah satu dosen UKM Prof Dr Hamzaini bin Abdul Hamid sebagai Adjunct Professor bidang radiologi melalui Adjunct Professor Inauguration 2026 yang digelar di Aula Utama FK Unair, Jumat (6/2/2026).
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Radiological Reasoning for Radiologists and Residents”, Prof Hamzaini menegaskan kemampuan penalaran radiologis sebagai fondasi utama, terutama bagi dokter dalam tahap pendidikan atau residen.
“Kesalahan penalaran itu paling sering terjadi pada radiolog junior, karena dua hal utama, yaitu keterbatasan pengalaman dan pengetahuan yang masih berkembang. Karena itu, selalu ada kemungkinan terjadi kekeliruan,” ujar Prof Hamzaini.
Prof Hamzaini menegaskan, tidak hanya di Malaysia, hasil pembacaan radiologi oleh residen di Indonesia juga tidak langsung difinalisasi. Namun, tetap harus melalui supervisi konsultan.
“Hasil pemeriksaan harus ditunjukkan terlebih dahulu kepada konsultan sebelum difinalkan. Itu adalah bagian dari proses pembelajaran. Residen belajar langsung dari kesalahan secara hands on, dan meskipun informal, metode ini justru sangat efektif,” tegasnya.
Prof Hamzaini menyebut, tantangan terbesar dalam radiological reasoning di rumah sakit adalah kurangnya paparan variasi citra medis.
“Radiolog harus melihat sebanyak mungkin gambar. Semakin banyak citra yang dilihat, semakin banyak pola yang terekam di otak. Inilah dasar dari pattern recognition,” ungkapnya.
Menurutnya, pembelajaran radiologi tidak cukup hanya melalui buku. Namun, juga didukung melalui citra nyata, pengetahuan, dan keterampilan radiolog. Selain itu, jenis pemeriksaan yang paling sering menimbulkan kesalahan pembacaan adalah foto polos atau X-ray.
“Tubuh manusia merupakan tiga dimensi, tapi X-ray hanya memberikan gambaran dua dimensi. Berbeda dengan CT scan yang bisa dilihat dari berbagai sisi. Karena itu, X-ray membutuhkan penalaran dan ketajaman observasi yang lebih tinggi,” terangnya.
Adjunct Professor adalah gelar kehormatan bagi seseorang dari luar negeri yang memiliki keahlian dalam bidang pendidikan, penelitian, dan bersedia membagikan ilmu maupun pengetahuan, termasuk memperkuat kerja sama global.
Mereka biasanya bekerja paruh waktu atau berbasis kontrak, membawa pengalaman praktis ke dalam kelas tanpa keharusan melakukan penelitian jangka panjang.
Di sisi lain, Ketua Program Studi Departemen Radiologi FK Unair Dr dr Widiana Ferriastuti SpRad(K) mengatakan, kolaborasi ini menjadi ruang bersama untuk memperluas interaksi keilmuan lintas institusi.
“Dengan adanya kolaborasi ini, kami bisa lebih intens berinteraksi, baik dalam bidang penelitian, komunikasi keilmuan, maupun pengembangan akademik ke depan. Bahkan, kerja sama ini juga bisa diperluas hingga pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi ini akan diarahkan pada program-program konkret berkelanjutan. Sekaligus peningkatan mutu pendidikan dokter dan residen radiologi di FK Unair.
“Mahasiswa dan residen akan lebih banyak belajar bagaimana membahas pola-pola penalaran dalam menjawab kasus-kasus keilmuan, khususnya kasus radiologi yang kompleks,” pungkasnya. (aci)

