Pendidikan
FKG Unair Kukuhkan 42 Dokter Gigi Baru, Dorong Internship dan Bekali Kesiapan Terjun ke Masyarakat

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Sebanyak 42 dokter gigi baru dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (FKG Unair) siap berkontribusi dalam memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

Dekan FKG Unair Prof Dr drg Muhammad Luthfi MKes PBO mengatakan, sebanyak 42 dokter gigi baru ini resmi diambil sumpah setelah menyelesaikan pendidikan dengan menyelesaikan ujian kompetensi, seperti Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Kedokteran Gigi (UKMP2DG) dan Computer Based Test (CBT).

“Alhamdulillah, lulus 100 persen, dan sebagai bentuk pernyataan sebagai dokter gigi baru dilakukan pelantikan atau pengambilan sumpah. Dari jumlah itu memang ini ada beberapa tahapan dalam melakukan pelantikan, mungkin ada 2-3 kali pelantikan dokter gigi baru dalam setahun, dan setiap angkatan itu ada sekitar 300 mahasiswa,” ujar Prof Luthfi seusai Pengambilan Sumpah Dokter Gigi periode IV 2025 di Ruang Kuliah A FKG Unair, Kamis (4/12/2025).

Baca Juga:  Tim Pakar Kemendiktisaintek Visitasi FKG Unair, Dorong Program Hilirisasi Riset Prioritas 2025

Prof Luthfi menjelaskan, setelah resmi menjadi dokter gigi baru, para lulusan ini kemudian menjalani internship selama enam bulan. Yakni, tiga bulan di puskesmas dan tiga bulan di rumah sakit.

Menurutnya, internship ini bertujuan untuk menciptakan dokter gigi yang berkualitas dan diakui dunia, dengan cara meningkatkan kemahiran dan kemandirian, menerapkan standar kompetensi yang telah dicapai selama pendidikan, serta menerapkan standar profesi dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran.

“Karena di dalam internship ini anak-anak melakukan suatu pelayanan sebelum nanti akan diizinkan menjadi profesional dokter gigi baru untuk melakukan satu praktik secara pribadi, baik di rumah sakit baik di klinik, di puskesmas ataupun di praktik-praktik pribadi,” jelasnya.

Baca Juga:  Sosok Intan Nihayah, dari Duta Pendidikan hingga Finalis Puteri Indonesia Jatim

Prof Luthfi mengakui, hingga saat ini pemerataan dokter gigi di Indonesia masih menjadi polemik. Sebab, banyak dokter gigi yang menjalani praktik maupun bertugas hanya terpusat di kota-kota besar. Padahal, idealnya, satu dokter gigi akan melayani sekitar 700 pasien.

“Karena kebanyakan dokter gigi ini kan perempuan, jadi kalau untuk ke daerah sampai 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal) masih keberatan untuk dilakukan pemerataan dan banyak tantangan. Untuk menuju lokasi kadang menggunakan perahu hingga berjam-jam. Selain itu, faktor keamanan bagi dokter gigi perempuan masih sangat minim,” ungkapnya.

Baca Juga:  Jasa Raharja Cabang Surabaya Gandeng RSU Assakinah Medika Sidoarjo Cek Kesehatan Kru DAMRI di Terminal Purabaya

Prof Luthfi menyebut, sebagai solusi untuk pemerataan dokter gigi di Indonesia, saat ini pihaknya memberikan perhatian kepada dokter gigi yang berasal dari daerah 3T yang mendapatkan beasiswa kuliah. Sehingga, setelah lulus nanti bisa memberikan pelayanan kesehatan di tempa kelahirannya tersebut.

“Kecuali nanti ada seorang dari para dokter gigi baru ini yang memang berasal dari putra daerah, yang biasanya diberikan suatu beasiswa ataupun belajar ke kita, nanti diharapkan akan dapat pulang kembali ke daerahnya untuk memberikan suatu pelayanan di sana,” pungkasnya. (aci)