Pendidikan
Alumnus UK Petra Manfaatkan Limbah Kosmetik Kedaluwarsa Jadi Media Lukis Buket Bunga Kertas

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Vanessa menginisiasi kampanye sosial pengelolaan make up kedaluwarsa secara berkelanjutan dengan mengedukasi masyarakat mengenai penanganan limbah kecantikan secara aman.

Langkah ini dilakukan karena prihatin dengan penumpukan limbah kosmetik kedaluwarsa yang menjadi ancaman lingkungan di tengah pesatnya pertumbuhan industri kecantikan. Padahal, banyaknya produk make up yang terbuang tanpa pengelolaan khusus kini menjadi salah satu tantangan tersembunyi penumpukan sampah di Indonesia.

“Karya ini hadir untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya limbah kecantikan (beauty waste) dan memberi solusi nyata dalam memilah, serta mengolah sisa produk kosmetik secara ramah lingkungan,” ujarnya, Sabtu (31/10/2026).

Baca Juga:  Mahasiswa DKV-IPDM UK Petra Surabaya Pamerkan 40 Karya Kurasi di Adiwarna 2026

 

Tak sekadar menjadi tugas akhir di atas kertas saat ia menyelesaikan kuliah, Vanessa berhasil mewujudkan karyanya melalui sebuah workshop edukatif yang merespons isu lingkungan dan maraknya budaya konsumerisme.

Dihadiri sekitar 20 peserta berusia 20-35 tahun, workshop ini mengajak mereka memanfaatkan limbah kosmetik sebagai media melukis buket bunga kertas.

“Workshopnya mengutamakan metode yang aplikatif agar para peserta dapat merasakan dampak langsung dan memiliki keterikatan terhadap permasalahan limbah kosmetik,” ungkapnya.

Baca Juga:  Mahasiswa UK Petra Pamerkan Karya Tugas Akhir Lewat Innofashion Show 8

Tak hanya melalui workshop, gadis kelahiran Surabaya ini juga menghadirkan beberapa media pendukung lainnya seperti pouch make up, acrylic keychain, brochure, dan poster.

Dalam pengelolaan make up kedaluwarsa, karya ini ternyata bukan kali pertama. Saat masa pandemi Covid-19 lalu, Vanessa pernah mendonasikan beberapa produk make up yang sudah tidak ia pakai kepada perias jenazah.

“Lebih karena dibuang sayang, jadi daripada menumpuk dan nggak terpakai, akhirnya aku donasikan ke perias jenazah yang lebih membutuhkan. Jadi produk make up yang kedaluwarsa itu bisa berguna lagi,” katanya.

Namun, ketika mengerjakan tugas akhirnya, Vanessa memutuskan untuk mengarahkan ide dan pengalamannya itu ke ranah seni visual.

Berbekal ilmu DKV Advertising, Vanessa menerapkan proses Design Thinking untuk mengubah ancaman limbah kosmetik menjadi medium seni visual yang kreatif, aplikatif, dan mudah diterima awam.

Baca Juga:  Bangun Sinergi Kampus dan Orang Tua Mahasiswa Baru 2026 melalui Sapa Unesa

“Selain relevan dengan bidang ilmu yang aku tekuni, gagasan ini terasa makin menarik karena kosmetik dapat langsung dimanfaatkan sebagai medium berkarya tanpa perlu diolah atau diubah bentuknya secara khusus,” terang perempuan yang kini mengisi waktunya dengan freelance di bidang Graphic Design itu.

Melalui sentuhan kreativitas, Vanessa membuktikan, kosmetik kedaluwarsa masih bisa memiliki nilai sebagai media seni, sebuah wujud nyata penerapan Education for Sustainable Development (ESD) di masyarakat.

“Aku ingin memberi solusi praktis yang mudah diterapkan, sehingga setiap orang bisa mulai mengambil langkah kecil untuk bumi dari meja rias mereka sendiri,” pungkasnya. (aci)