Berita Sidoarjo
Operasionalisasi 10.070 KDKMP Dimulai di Desa Tambakrejo Waru Sidoarjo, Ini Manfaat yang Bisa Didapat Masyarakat
SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Memangkas rantai distribusi, menekan harga kebutuhan pokok, hingga melindungi petani dari anjloknya harga hasil panen menjadi sejumlah misi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Sebanyak 10.070 koperasi mulai beroperasi secara serentak, Kamis (15/10/2026), termasuk KDKMP Desa Tambakrejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Dirut Agrinas Joao Angelo De Sousa Mota, Dirut Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi, Ketua Ombudsman Nuzran Joher, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana meninjau langsung operasionalisasi KDKMP Desa Tambakrejo.
Zulhas, panggilan akrab Zulkifli Hasan berdialog dengan warga dan pengelola koperasi sekaligus menjelaskan berbagai layanan yang diharapkan dapat memperkuat perekonomian masyarakat desa.
Zulhas mengatakan, pengoperasian ribuan KDKMP secara serentak merupakan pekerjaan besar yang melibatkan berbagai kementerian, lembaga, dan badan usaha milik negara (BUMN). Karena itu, pelaksanaannya membutuhkan proses bertahap agar koperasi dapat berfungsi optimal.
“Ini sesuatu yang baru kita mulai. Tidak akan langsung sempurna, tapi arahnya jelas,” kata Zulhas.
Menurutnya, salah satu tujuan utama pembentukan KDKMP adalah memangkas panjangnya rantai distribusi barang. Dengan demikian, masyarakat diharapkan bisa memperoleh berbagai kebutuhan dengan harga lebih terjangkau.
Di sisi lain, koperasi juga disiapkan untuk membantu menjaga stabilitas harga hasil pertanian agar petani tidak merugi ketika harga di pasaran turun.
“Tujuannya ekonomi tumbuh dari desa, pelayanan lebih cepat, rantai distribusi dipangkas,” ujarnya.
Untuk mendukung tujuan tersebut, KDKMP akan menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari bahan pokok, pupuk bersubsidi, hingga alat dan mesin pertanian (alsintan).
Khusus pupuk bersubsidi, masyarakat nantinya cukup mendatangi koperasi dengan membawa kartu tanda penduduk (KTP).
Melalui mekanisme tersebut, pemerintah berharap distribusi pupuk menjadi lebih mudah dan efisien. Pemangkasan rantai distribusi diharapkan dapat mengurangi hambatan penyaluran sekaligus membantu petani memperoleh sarana produksi sesuai kebutuhan.
Tak hanya menjadi tempat penyediaan kebutuhan pertanian, KDKMP juga diproyeksikan sebagai penampung hasil panen petani.
Zulhas mencontohkan, ketika harga gabah di pasaran turun menjadi sekitar Rp 5.000-Rp 6.000 per kilogram, koperasi dapat membeli hasil panen petani dengan harga pembelian pemerintah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Selanjutnya, hasil panen tersebut akan diserap Perum Bulog. Dengan mekanisme ini, koperasi berperan sebagai pembeli atau off-taker yang membantu memastikan hasil produksi petani tetap memiliki pasar ketika harga di tingkat pedagang melemah.
“Kalau harga di luar jatuh, koperasi membeli dengan harga yang sudah dipatok pemerintah. Nanti Bulog mengambil alih,” jelas Zulhas.
Selain mendukung sektor pertanian, KDKMP juga dirancang untuk mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat.
Melalui agen perbankan BNI dan BRI yang tersedia di koperasi, warga dapat melakukan transaksi setor dan tarik tunai, membayar tagihan listrik, hingga menerima kiriman uang tanpa harus pergi jauh ke kantor bank.
Koperasi desa juga diharapkan menjadi akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Zulkifli menyebut skema pembiayaan yang disiapkan pemerintah memungkinkan bunga pinjaman yang sebelumnya dapat mencapai 22-24 persen diturunkan menjadi sekitar 8 persen.
“Pinjaman untuk UMKM, usaha kue, usaha dagang, semuanya bisa melalui koperasi desa,” katanya.
Pemerintah juga menargetkan keberadaan KDKMP dapat membantu menekan harga sejumlah kebutuhan masyarakat.
Zulkifli mencontohkan harga LPG ukuran tiga kilogram yang di luar koperasi dapat mencapai Rp 22.000-Rp 23.000 per tabung, sedangkan melalui koperasi ditargetkan sekitar Rp 18.000 per tabung.
Ke depan, pemasaran produk desa juga tidak akan terbatas pada wilayah setempat. KDKMP akan dihubungkan melalui jaringan daring sehingga koperasi dapat bekerja sama memasarkan produk dari satu desa ke berbagai daerah di Indonesia.
Skema tersebut diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan desa sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Produk desa bisa dijual ke mana saja. Koperasi satu dengan koperasi lainnya juga bisa saling memasarkan,” tutup Zulhas. (sat)


