Pendidikan
Unesa Gelar Forum Dekan AFKNI 2026 Bahas Transformasi Pendidikan Kedokteran dan Pemerataan Distribusi Dokter

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi tuan rumah dalam Forum Dekan Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Indonesia (AFKNI) 2026 di Surabaya, Jumat (19/6/2026).

Forum ini membahas transformasi pendidikan kedokteran di era regulasi baru, sinergi akademik, profesi, dan kebijakan nasional.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Sesditjen Dikti) Prof Dr dr med Setiawan mengatakan, melalui Forum Dekan AFKNI 2026 pihaknya berharap semakin memperkuat konsep pada sistem pendidikan akademik.

Menurutnya, praktik yang sudah berjalan selama ini dinilai membuat pendidikan kedokteran menjadi lebih efektif, efisien, serta memperhatikan sistem mulai dari sejak input, proses, output, income bahkan sampai kepada impact.

Baca Juga:  Unesa Jadi Lokasi Uji Publik RUU HAM, Serap Aspirasi Masyarakat hingga Mahasiswa

“Tentunya dalam proses pendidikan ada banyak yang terlibat. Mulai dari penyelenggara pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan dari regulator yang akan mengatur pendayagunaan,” ujarnya usai menjadi pembicara Forum Dekan AFKNI 2026 di Four Points by Sheraton Pakuwon Mall Surabaya.

Setiawan menegaskan, pendidikan bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang diperlukan kementerian pengguna, baik Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, atau bahkan sektor swasta.

“Jadi, dengan penguatan sistem kesehatan akademik ini, di satu sisi ada kepastian dalam pemenuhan kebutuhan, di sisi yang lain yang punya kebutuhan tadi juga ikut mendukung peningkatan kualitas dari penyelenggara pendidikan,” tegasnya.

Baca Juga:  Fasilitas LINAC dan CT Simulator di Siloam Hospitals Surabaya Bantu Layanan Pasien Kanker

Menurut Setiawan, jika semua pihak hanya menjalankan tugasnya masing-masing tanpa kolaborasi, diperkirakan akan menjadi lebih mahal, tidak efisien, dan tidak efektif.

“Khusus untuk pendidikan spesialis mendorong seleksi bersama, sehingga sejak awal kita pastikan yang akan mengikuti proses pendidikan akan jelas penempatannya di mana. Karena selama ini yang terjadi adalah maldistribusi, itu salah satu permasalahan yang ingin diselesaikan dengan penguatan sistem kesehatan akademik,” ungkapnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unesa Dr dr Endang Sri Wahyuni MKes mengatakan, transformasi proses pendidikan di fakultas kedokteran di seluruh Indonesia karena berada di bawah tiga kementerian, yakni Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Agama (Kemenag).

Baca Juga:  Unair Resmi Buka Kantor OIC-COMSTECH di WUACD, Perluas Publikasi Kolaboratif Lintas Negara

“Itu kan perlu sinkronisasi karena lulusan kita itu dipakai oleh Kemenkes, tapi ketika prosesnya ini di Dikti,” katanya.

Di sisi lain, dr Endang mengakui distribusi dokter di Indonesia belum merata, terutama di kawasan Indonesia Timur atau daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar).

“Oleh karena itu, ini dibicarakan juga di sini. Bagaimana kita bisa memenuhi itu? Apakah dengan kerja sama dengan daerah itu, sehingga putra daerah yang pakai dengan seleksi tetap itu bisa diterima di perguruan tinggi terutama karena ini AFKNI dan kemudian akhirnya nanti karena pembiayaan juga dari daerah mereka harus kembali ke daerah-daerah yang sebetulnya,” pungkasnya. (aci)