Berita Sidoarjo
Menjaga Warisan Leluhur di Malam 1 Suro, Kasatpol PP Sidoarjo Rawat Ratusan Keris dan Tombak Peninggalan Sejarah
SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Menyambut pergantian Tahun Baru Jawa 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharam, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sidoarjo, Yany Setiawan, kembali menjalankan tradisi jamasan pusaka di rumahnya, Senin (15/6/2026).
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, Yany memilih merawat warisan budaya leluhur melalui ritual tahunan pencucian dan perawatan benda-benda pusaka yang telah ia koleksi selama lima tahun terakhir.
Tak tanggung-tanggung, lebih dari 100 bilah pusaka tersimpan menjadi koleksinya. Koleksi tersebut didominasi keris dan tombak yang diperoleh dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Jember, Lumajang, hingga sejumlah wilayah lainnya.
Bagi Yany, jamasan bukan sekadar tradisi yang dilakukan setiap datangnya bulan Suro. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap karya adiluhung para leluhur yang memiliki nilai seni, sejarah, dan filosofi tinggi.
“Ini adalah warisan budaya yang harus dijaga. Keris bukan untuk disembah atau dikultuskan, melainkan mahakarya nenek moyang yang sarat nilai budaya dan sejarah,” ujar Yany.
Prosesi perawatan pusaka dilakukan melalui beberapa tahapan. Bilah keris dan tombak terlebih dahulu dibersihkan menggunakan campuran air, perasan jeruk nipis, serta buah lerak untuk mengangkat kotoran dan karat tanpa merusak logam aslinya.
Setelah itu, pusaka dibilas menggunakan air bersih yang dicampur kembang setaman. Khusus keris berbahan besi, dilakukan pula proses pewarangan, yakni teknik tradisional yang bertujuan menampilkan kembali pamor atau motif khas pada bilah keris. Sebagai tahap akhir, pusaka dikeringkan dan diolesi minyak khusus agar terhindar dari korosi.
Meski tradisi jamasan sering kali dikaitkan dengan hal-hal mistis, Yany menegaskan, kegiatan yang ia lakukan semata-mata merupakan bentuk pelestarian benda bersejarah.
Menurut dia, merawat keris tidak berbeda dengan menjaga koleksi museum atau artefak budaya lainnya agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Perawatan ini dilakukan agar pusaka tetap terjaga dari kerusakan dan karat. Di sisi lain, jamasan juga menjadi pengingat bagi kita untuk membersihkan hati dan jiwa dalam menyambut tahun yang baru,” katanya.
Ketertarikannya terhadap dunia perkerisan bermula sekitar lima tahun lalu. Hobi tersebut ia lanjutkan dari almarhum ayahnya yang lebih dahulu mencintai dan mengoleksi benda-benda pusaka.
Sejak saat itu, Yany konsisten mengumpulkan sekaligus merawat berbagai pusaka sebagai bagian dari upaya menjaga warisan keluarga dan budaya bangsa.
Ia berharap kepedulian terhadap keris dan pusaka Nusantara dapat tumbuh di kalangan generasi muda. Terlebih, keris Indonesia telah mendapat pengakuan dunia sebagai warisan budaya oleh UNESCO.
“Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi? Keris adalah bagian dari identitas bangsa yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tutup Yany. (sat)


