Angka Kelahiran Bayi di Jawa Timur Rendah, BKKBN Belajar ke Jawa Timur

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengapresiasi capaian Pemprov Jatim dalam menekan angka kelahiran bayi (total fertility rate) yang lebih rendah dari rata-rata nasional. Hal itu disampaikannya usai menemui Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di ruang kerja Gubernur, Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu (17/7/2019).

Hasto menjelaskan, saat ini total fertility rate Jatim 2,1 persen. “Artinya angka kelahiran anak dari satu perempuan di Jatim rata-rata 2,1 anak. Ini lebih rendah dari angka nasional yang masih di angka 2,38. Jadi kami datang ke sini untuk belajar juga ke Bu Khofifah yang juga pernah jadi Kepala BKKBN, karena beliau ini juga senior saya,” kata Kepala BKKBN yang baru dilantik tersebut seperti dikutip kominfo.jatimprov.go.id.

Banyak program yang bagus di Jawa Timur yang bisa diadopsi pusat. Seperti program bidan kembali ke desa, karena layanan kontrasepsi KB juga tergantung bidan.

Terkait advokasi bagi perlindungan perempuan dan anak di Jatim, kata dia, juga perlu dicontoh. “Kami juga mulai menggerakkan sekolah siaga kependudukan seperti yang kami lakukan di SMAN 1 Kepanjen Kabupaten Malang. Anak-anak muda ini ternyata sangat antusias saat diberikan pendidikan kesehatan reproduksi,” ujarnya.

Mantan Bupati Kulon Progo itu juga mencontohkan perempuan hamil di bawah 20 tahun belum cukup mengeluarkan kepala bayi ukuran 10 cm. “Kalau usia di bawah 20 tahun pinggul masih sempit jadi risiko melahirkan lebih besar. Ada juga penyakit gondongen yang dikasih blawu, padahal itu terjadi karena testis tidak produksi sperma,” jelasnya.

Hasto juga menceritakan hal lucu terkait pertanyaan dari anak muda di Malang. “Apakah menelan sperma itu hamil atau tidak. Ini kan lucu tapi ini pendidikan reproduksi bukan pendidikan seks. Ini penting diajarkan supaya mereka (anak muda) tidak tersesat,” tuturnya.

Khofifah menambahkan, saat ini di Jawa Timur masih tinggi tingkat perceraian suami istri. “Tertinggi itu di Kecamatan Ngantang Kab Malang. Kalau dulu di Kecamatan Genteng, Kab Banyuwangi. Sekarang malah Ngantang karena banyak yang jadi TKW (tenaga kerja wanita) di Hongkong,” ujarnya.

Selain itu, incest (hubungan sedarah) hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Jatim juga masih terjadi. “Hampir setiap hari di Polda Jatim ada laporan soal itu (inces dan KDRT). Kami juga berharap kerjasama dan bantuan BKKBN untuk bisa melakukan upaya kerjasama mengatasinya,” ungkapnya.

Ke depan, Gubernur Khofifah juga menargetkan kerjasana Pemprov Jatim dengan BKKBN terkait Metode Operasi Wanita dan Metode Operasi Pria (MOW dan MOP). “Nanti akan dibuatkan MoU BKKBN dengan Dinas Kesehatan Jatin untuk kerjasamanya,” pungkasnya. (es)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *