Pendidikan
Unusa dan KCGI Jepang Buka Peluang Kerja Sama Pengembangan Pemanfaatan AI untuk Transformasi Pendidikan
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membuka peluang kerja sama dengan Kyoto Computer Gakuin (KCGI) Jepang dalam pengembangan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk transformasi pendidikan tinggi.
Peluang kerja sama itu dibuktikan dengan kunjungan Prof Ananda Nepal saat memberikan kuliah tamu (guest lecture) bertema AI Architecture in Higher Education di Auditorium Unusa Lantai 9 Surabaya.
Dalam pemaparannya, Prof Ananda Nepal menjelaskan bagaimana perkembangan teknologi AI mulai mengubah sistem pendidikan tinggi di berbagai negara.
Salah satu konsep yang disampaikan adalah pengakuan kredit akademik melalui pembelajaran mandiri berbasis sertifikat digital atau independent study.
Menurutnya, mahasiswa kini dapat memperoleh kompetensi dari berbagai platform pembelajaran global seperti Coursera dan edX maupun pelatihan industri profesional.
“Sertifikat digital tersebut nantinya dapat diverifikasi menggunakan sistem berbasis AI untuk memastikan keaslian dokumen, kesesuaian materi, serta relevansinya dengan capaian pembelajaran di perguruan tinggi,” ujarnya.
Prof Ananda menyebut, setelah melalui verifikasi awal oleh AI, proses peninjauan akademik tetap dilakukan oleh fakultas dan dosen sebelum kredit atau SKS diberikan kepada mahasiswa.
“Universitas tidak lagi menjadi satu-satunya tempat mahasiswa mendapatkan kredit akademik, tetapi menjadi lembaga yang mengakui kompetensi dari berbagai sumber pembelajaran,” ungkapnya.
Selain itu, Prof Ananda juga memaparkan pemanfaatan AI dalam mengubah aktivitas akademik menjadi media publik berbasis digital.
Aktivitas seperti kuliah, seminar, praktikum, hingga proyek mahasiswa dapat direkam dan diolah menjadi berbagai bentuk konten edukatif.
Menurutnya, data pembelajaran berupa video, audio, maupun transkrip dapat diproses menggunakan AI untuk menghasilkan ringkasan materi, penerjemahan multibahasa, hingga pengelompokan informasi agar lebih mudah diakses masyarakat.
“Hasilnya dapat dipublikasikan dalam bentuk podcast, video edukasi, maupun micro-credentials yang dapat dimanfaatkan lebih luas,” terangnya.
Ia menilai konsep tersebut dapat mendorong perguruan tinggi menjadi pusat distribusi pengetahuan digital, tidak hanya sebagai tempat pembelajaran formal di ruang kelas.
Dalam sesi diskusi, Prof Ananda menyampaikan sejumlah peluang kolaborasi antara KCGI dan Unusa, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, student and staff inbound, joint courses, hingga kolaborasi riset di bidang teknologi dan AI.
“Dalam hal ini kita bisa menentukan bidang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama,” katanya.
Wakil Rektor III Unusa Prof Bambang Sektiari Lukiswanto menyambut baik peluang kerja sama tersebut.
Menurutnya, kerja sama internasional harus berorientasi pada implementasi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi sivitas akademika.
“Kolaborasi bersama KCGI Jepang ini diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen Unusa untuk mendalami bidang AI sekaligus memperkuat kompetensi global di era transformasi digital,” pungkasnya. (aci)


