EJAVEC 2026 Terima 559 Paper, BI Jatim Dorong Hasil Penelitian Bantu Perumusan Kebijakan Pembangunan

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (BI Jatim) menerima 559 karya ilmiah atau paper melalui gelaran East Java Economic (EJAVEC) Forum 2026.

Jumlah tersebut meningkat 48,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan partisipasi penulis dari dalam dan luar negeri, termasuk Inggris, Australia, dan Taiwan.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan, forum yang memasuki gelaran ke-13 sejak 2014 itu mengajak kalangan akademisi mendorong agar hasil penelitian menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Menurutnya, penguatan riset ekonomi dinilai semakin penting untuk menjaga pertumbuhan Jawa Timur di tengah tantangan ekonomi global.

Baca Juga:  Empat UMKM Binaan Bank Indonesia Jatim Bawa Wastra Lokal ke Panggung Fesyen Dunia di ISEF 2026

Selain itu, peningkatan jumlah penelitian menjadi salah satu indikator besarnya perhatian kalangan akademisi terhadap persoalan dan peluang pengembangan ekonomi Jawa Timur.

“Kebijakan pembangunan perlu disusun dengan menggabungkan pemahaman terhadap kondisi riil perekonomian dan hasil riset yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujarnya dalam Conference and Winner Announcement EJAVEC 2026 di Surabaya, Rabu (21/10/2026).

Ibrahim menegaskan, pemahaman terhadap persoalan di lapangan perlu diperkuat dengan analisis yang objektif dan terukur agar rekomendasi kebijakan tidak berhenti pada tataran gagasan, namun dapat diterapkan.

“Pemahaman terhadap kondisi dan permasalahan ekonomi di lapangan merupakan modal penting dalam perumusan kebijakan. Namun, pemahaman tersebut perlu dilengkapi dengan riset dan analisis ilmiah yang kuat,” tegasnya.

Baca Juga:  Pemprov Jateng Gaet Investor dari Berbagai Daerah, Siapkan Ekosistem Industri Halal

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjelaskan, posisi Jawa Timur sebagai provinsi dengan kontribusi ekonomi terbesar kedua secara nasional perlu diimbangi dengan strategi pembangunan yang memperhatikan karakteristik dan potensi setiap wilayah.

“Perbedaan potensi ekonomi antardaerah perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan arah pembangunan. Selain itu, perubahan kondisi ekonomi global menuntut kebijakan yang mampu menjaga daya tahan sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru,” jelasnya.

Dalam rangkaian forum tersebut, Ibrahim menyerahkan Prosiding Finalis EJAVEC 2026 dan Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Timur Triwulan II 2026 kepada Wagub Emil.

Kedua dokumen itu diharapkan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan ekonomi daerah.

Dalam seminar ekonomi yang menjadi bagian dari EJAVEC 2026, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) Prof Rudi Purwono memaparkan perkembangan dan prospek ekonomi Jawa Timur.

Pembahasan mencakup strategi peningkatan produktivitas, penguatan daya saing, pemerataan pertumbuhan, serta ketahanan ekonomi dalam menghadapi dinamika global.

Baca Juga:  Bank Indonesia Dorong Visi Pusat Ekonomi Syariah Dunia melalui ISEF 2026

Sedangkan, ekonom senior sekaligus pendiri CORE Indonesia Hendri Saparini menyoroti pentingnya riset untuk mendukung kebijakan berbasis bukti, transformasi struktural, serta penguatan industrialisasi dan hilirisasi.

Founder PT Disway National Network Dahlan Iskan menekankan perlunya mendorong hasil penelitian menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi.

Menurutnya, riset perlu dihubungkan dengan peluang pasar, peningkatan daya saing usaha, serta pemanfaatan digitalisasi agar pelaku UMKM dapat mengembangkan bisnisnya.

Bank Indonesia Jawa Timur berharap EJAVEC terus berkembang sebagai ruang kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha.

Hasil penelitian yang dihasilkan diharapkan dapat memperkuat rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah, membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru, serta mendukung pertumbuhan Jawa Timur yang inklusif dan berkelanjutan. (aci)