PLTS Gajah Mungkur di Wonogiri Mulai Dibangun, Diproyeksi Hasilkan Listrik 218 GWh

WONOGIRI, SURYAKABAR.com – Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Gajah Mungkur mulai dibangun di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Pembangkit listrik tersebut diproyeksi mampu menghasilkan sekitar 218 GWh listrik per tahun, saat beroperasi pada akhir 2027.

Groundbreaking PLTS Terapung Gajah Mungkur dilakukan serentak dengan peluncuran Program PLTS 100 GWp, yang dipimpin Presiden RI Prabowo dari Bali, Selasa (25/8/2026).

Ada 14 PLTS dengan total kapasitas mencapai 5,2 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan saat itu, salah satunya PLTS Terapung Gajah Mungkur.

Di Wonogiri, kegiatan dihadiri Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bersama jajaran pemerintah daerah, PT PLN, pengelola sumber daya air, dan pengembang proyek.

“Hari ini kita melakukan groundbreaking terkait dengan PLTS. Di Jawa Tengah ini adalah salah satu PLTS yang terbesar di Wonogiri, dengan kapasitas 134 megawatt peak,” kata Luthfi.

Baca Juga:  BEI Terbitkan Aturan Saham Hijau, Buka Peluang Investasi Berbasis Ekonomi Rendah Karbon

Ditambahkan, saat beroperasi, PLTS Gajah Mungkur diproyeksikan menghasilkan sekitar 218 GWh listrik per tahun. Jumlah itu setara sekitar 37 persen kebutuhan listrik Kabupaten Wonogiri dalam satu tahun.

Luthfi menyebut investasi pembangunan PLTS Terapung Gajah Mungkur mencapai sekitar Rp1,6 Triliun, dan ditargetkan dapat beroperasi pada 2027.

Menurut gubernur, pengembangan energi baru terbarukan akan menjadi salah satu prioritas Jawa Tengah, untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah, Bramantyo Anggun Pambudi menjelaskan, listrik dari PLTS Gajah Mungkur nantinya disalurkan melalui jaringan 150 kilovolt menuju Gardu Induk Nguntoronadi, yang berjarak sekitar 11,7 kilometer.

Setelah masuk jaringan interkoneksi Jawa-Madura-Bali, listrik tersebut tidak hanya digunakan di kawasan sekitar Waduk Gajah Mungkur.

Baca Juga:  Desain Kapal Ramah Lingkungan, Tim Hydromodelling dan Arkana ITS Juara Internasional

“Ketika listrik tersebut sudah masuk ke jaringan interkoneksi, maka listrik tersebut tidak khusus untuk berada di sekitaran daerah tersebut. Itu juga bisa disalurkan ke semua daerah di jaringan yang tersambung dengan interkoneksi,” kata Bramantyo.

Sementara, Direktur Operasi Pembangkit Gas PT PLN Indonesia Power, Daniel Eliawardhana mengatakan, persiapan dan aspek teknis proyek saat ini sedang dilakukan.

“Secara target waktu sesuai yang disampaikan Pak Gubernur tadi, kita akhir tahun 2027 ini sudah bisa beroperasi setara 134 megawatt peak,” ujarnya.

Selain Gajah Mungkur, pengembangan PLTS di Jawa Tengah juga direncanakan di Waduk Kedung Ombo dengan kapasitas sekitar 100 MWac. Proyek lain dengan kapasitas sekitar 7,4 MW juga disiapkan di Karimunjawa.

Pembangunan PLTS Gajah Mungkur merupakan bagian dari Program PLTS 100 GWp yang dikembangkan pemerintah secara nasional, untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah serius mengejar pembangunan pembangkit listrik tenaga surya tersebut. Dia menargetkan kapasitas PLTS 100 GWp tersebut dapat dibangun dalam tiga tahun.

Baca Juga:  Kolaborasi PT BMJ dan iForte Energi Operasikan PLTS Atap 5,5 MWp di Karawang dan Kudus

Menurut Prabowo, pengembangan energi tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat kemandirian energi.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebut, Program PLTS 100 GWp secara nasional diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 73 miliar dolar AS, atau lebih dari Rp1.140 Triliun.

Program tersebut diproyeksikan menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja, sekaligus menghasilkan efisiensi subsidi energi sekitar Rp73,9 Triliun per tahun.

Khusus PLTS Terapung Gajah Mungkur, area panel direncanakan menempati kurang dari 5 persen dari luas Waduk Gajah Mungkur yang mencapai sekitar 5.600 hektare.

Tata letaknya disiapkan dengan mempertimbangkan perubahan muka air waduk, serta tetap mempertahankan jalur aktivitas masyarakat dan nelayan.

Pada tahap konstruksi, proyek ini juga diperkirakan membutuhkan sekitar 150 hingga 250 tenaga pendukung, yang dapat direkrut dari masyarakat lokal melalui kontraktor. (*)