Pendidikan
Kolaborasi Internasional Unusa dan University of Manchester Kaji Perkembangan Saraf Janin
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggandeng peneliti University of Manchester untuk mengkaji perkembangan saraf janin. Kolaborasi ini memperkuat arah riset pada Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi.
Rektor Unusa Prof Tri Yogi Yuwono mengatakan, kerja sama internasional ini membangun budaya akademik kampus. Langkah ini sejalan dengan pembukaan program spesialis baru di Fakultas Kedokteran (FK).
“PPDS Obstetri dan Ginekologi Unusa akan menjadi pusat riset perkembangan otak manusia sejak dalam kandungan,” ujar Prof Tri Yogi, Senin (10/8/2026).
Prof Tri Yogi melihat tantangan masalah saraf pada masa awal kehidupan sangat kompleks. Isu ini memaksa dunia kedokteran untuk melebur bersama sains data, kecerdasan buatan, hingga teknik biomedis.
“Jika dokter memetakan otak manusia, insinyur memetakan jaringan yang menghubungkan dunia. Hari ini, kedua dunia ini harus bersatu,” ungkapnya.
Rencana jangka panjang Unusa juga didorong Prof Hermanto Tri Joewono. Ia menggagas Pusat Studi Perkembangan Otak dan Kapasitas Kognitif Sejak dalam Rahim.
“Pembangunan kualitas manusia tidak seharusnya baru dimulai ketika anak memasuki usia sekolah, tetapi harus ditarik mundur sejak masa prakonsepsi dan kehidupan dalam kandungan,” jelasnya.
Pendekatan terpadu tersebut mengawinkan aspek kesehatan ibu dan anak dengan pembentukan kapasitas kognitif. Hasil akhirnya diharapkan mampu melahirkan generasi masa depan yang lebih cerdas.
“Ini membuka ruang penelitian yang mengintegrasikan kesehatan ibu dan anak dengan perkembangan otak sejak fase paling awal kehidupan,” katanya.
Pakar Molecular Cardiovascular Sciences University of Manchester Prof Delvac Oceandy membagikan pengalamannya merancang penelitian ilmiah. Ia menekankan sejumlah poin dasar agar riset berjalan lancar.
“Ada lima aspek yang perlu diperhatikan untuk melihat riset ini berhasil atau tidak, yaitu permasalahan yang jelas, kreativitas ide orisinil, kolaborasi, mentorship, serta integritas,” terangnya.
Prof Delvac juga membedah terobosan riset biomedik modern dalam menangani penyakit jantung kronis. Pengalaman biologi molekuler miliknya diharapkan mampu membangun jejaring laboratorium lintas negara.
“Kerja sama ini tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi diarahkan menjadi penelitian bersama, pengembangan kapasitas dosen, dan penguatan pusat kesehatan ibu,” pungkasnya. (aci)


