BI Sebut Kebutuhan Investasi di Jatim Rp220 Triliun pada 2029
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur optimistis mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029.
Hal itu sesuai skenario perhitungan, kebutuhan investasi di Jawa Timur diperkirakan tumbuh lebih dari 10 persen setiap tahun, dari sekitar Rp162 Triliun pada 2026 menjadi Rp220 Triliun pada 2029.
“Target tersebut masih realistis dicapai karena Jawa Timur memiliki berbagai modal penting yang mendukung masuknya investasi, mulai dari infrastruktur, konektivitas hingga kawasan industri yang terus berkembang,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim dalam High Level Meeting Forum Investasi, Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Jawa Timur 2026 yang digelar di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (25/6/2026).
Ibrahim menegaskan, Jawa Timur saat ini memiliki daya tarik yang kuat bagi investor karena didukung jaringan jalan, pelabuhan, bandara, serta transportasi publik yang semakin terintegrasi.
Selain itu, pengembangan layanan Trans Jatim juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
“Keberadaan kawasan industri yang terus bertambah menjadi modal penting dalam menarik investasi baru. Kawasan-kawasan tersebut telah didukung ketersediaan tenaga kerja, jaringan logistik, serta infrastruktur penunjang lainnya,” tegasnya.
Menurut Ibrahim, investor tidak selalu mencari daerah yang sempurna. Yang terpenting adanya komitmen pemerintah daerah dalam memberikan kepastian dan kemudahan berusaha.
“Upaya menjaga iklim investasi yang kondusif harus terus diperkuat, termasuk melalui implementasi deklarasi bebas premanisme yang telah dicanangkan sebelumnya. Langkah itu penting untuk memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi pelaku usaha,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari strategi promosi investasi, Jawa Timur juga akan kembali menggelar East Java Investment Forum (EJIF) 2026 pada Oktober mendatang.
Forum tersebut akan menawarkan sekitar 31 proyek investasi (Investment Project Ready to Offer/IPRO) dan sekitar 20 proyek investasi potensial lainnya kepada calon investor.
“Harapannya seluruh pihak dapat mengawal dan mendukung agenda tersebut, sehingga mampu menarik investasi yang lebih besar, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang semakin inklusif dan berkelanjutan,” terangnya.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, forum ini digelar sebagai upaya nyata pemerintah provinsi dalam mempercepat arus investasi, dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.
“Kepastian hukum terkait lahan menjadi fondasi utama dalam menarik minat investor ke Jawa Timur. Selain itu, pentingnya sinkronisasi tata ruang untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” katanya.
Gubernur Khofifah meminta Bappeda segera memfinalisasi dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
“Ketika kami cerita investasi, secara legal seluruh area itu harus fix. Saya minta Bappeda membuat desk khusus agar kepastian usaha di daerah dapat terjamin,” tegasnya.
Di sisi lain, Gubernur Khofifah juga menyoroti peran TP2ED sebagai wadah koordinasi lintas sektor dalam mengidentifikasi peluang ekonomi.
Saat ini, 37 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur telah membentuk TP2ED, dengan harapan Tulungagung segera menyusul untuk melengkapi sinergi wilayah.
Sedangkan, TPKAS difokuskan untuk memperluas akses keuangan bagi masyarakat, termasuk UMKM, nelayan dan peternak. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan. (aci)


