Kemenperin Hadir di Indowood Expo 2026, Sebut 80 Persen Hasil Produksi Industri Mebel Diekspor ke Luar Negeri

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, sekitar 80 persen hasil produksi industri furnitur atau mebel Indonesia diekspor ke luar negeri.

Hal itu disampaikan Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kementerian Perindustrian Andi Rizaldi saat menghadiri Indonesia Forestry and Woodworking Machinery Indowood Expo 2026 di Grand City Convex Surabaya, Kamis (4/6/2026).

Andi mengatakan, penguatan dolar cenderung menguntungkan industri mebel, karena sekitar mayoritas bahan bakunya berasal dari dalam negeri.

“Kalau kita lihat kasus furnitur karena 60 persen bahan baku lokal, sedangkan penjualannya 80 persen ekspor, berarti kenaikan nilai tukar dolar itu sebetulnya menguntungkan,” ujarnya.

Andi menyebut, pemerintah terus mendorong hilirisasi industri kayu dengan membatasi ekspor bahan baku mentah berupa kayu log atau gelondongan. Menurutnya, kebijakan itu membuka peluang masuknya investasi ke sektor pengolahan kayu dan mebel dalam negeri.

Baca Juga:  Indowood Expo 2026 Hadir di Surabaya, Pamerkan Teknologi Modern Industri Mebel dan Pengolahan Kayu

Menurutnya, kebutuhan bahan baku kayu di sejumlah negara, termasuk China, masih cukup tinggi. Namun, karena ekspor kayu log dari Indonesia telah dibatasi, pelaku usaha asing didorong untuk berinvestasi dan membangun industri pengolahan di Indonesia.

“Kalau mau ya datang ke sini. Nanti kita kasih log. Jadi saya pikir itu trade off yang bagus. Supaya mereka dapat bahan baku, kemudian kita juga industrinya jadi bertambah,” ungkapnya.

Andi menjelaskan, nilai ekspor industri mebel pada 2024 mencapai sekitar 1,9 Miliar USD atau sekitar Rp34,24 Triliun. Sedangkan pada 2025 nilainya berada di kisaran 1,8 Miliar USD atau setara Rp32,44 Triliun.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah hingga menembus Rp18.020 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Kamis (4/6/2026), berdasarkan data Bank Indonesia.

Baca Juga:  Nilai Ekspor Banyuwangi Tembus Rp 3,9 Triliun di 2025, Jangkau Berbagai Belahan Dunia

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menegaskan, pelemahan rupiah bukan kondisi ideal, namun justru memberikan keuntungan dari sisi eksportir.

Menurutnya, kondisi ini sebetulnya menguntungkan bagi 2.500 anggotanya yang mayoritas eksportir. Hal ini mengingat 70 persen bahan baku produksi bersumber dari lokal.

Sedangkan, persentase sisanya sekitar 25 persen baru impor mesin atau teknologi. Namun, keuntungan ini dinilai hanya bersifat sementara.

Baca Juga:  Lima Daerah Ini Akan Jadi Penopang Wisata Candi Borobudur

“Iya tapi untungnya sesaat ya, karena kita terima dalam bentuk dolar. Kita mengatakan kayak semacam windfall (keuntungan tiba-tiba). Tapi, nanti belanja mesin juga pakai dolar. Logistik juga ada dolarnya. Belanja bahan finishing juga ada dolarnya,” tegasnya.

Sobur menilai industri mebel lebih perlu kondisi rupiah yang stabil untuk rencana jangka panjang. Sebab, menurutnya perlu regulasi untuk meningkatkan kepercayaan publik termasuk internasional.

“Dengan memastikan regulasi atau hambatan-hambatan di dalam dunia usaha itu menjadi hilang. Supaya ada kepercayaan publik yang kuat termasuk dunia internasional melihat Indonesia ini adalah peluang untuk membangun pertumbuhan,” pungkasnya. (aci)