Pendidikan
Unusa Lantik dan Ambil Sumpah 16 Dokter Baru, Siap Mengabdi kepada Masyarakat

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Sebanyak 16 dokter baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) siap mengabdi kepada masyarakat usai dilantik dan diambil sumpah di Auditorium Lantai 9 Kampus B Unusa Jemursari Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unusa Prof Dr dr Budi Santoso SpOG SubspFER mengatakan, sebanyak 16 dokter baru ini tercatat 84 persen berasal dari keluarga bukan dokter atau non-dokter.

Menurutnya, capaian ini menjadi penanda penting bahwa profesi dokter kini semakin inklusif dan tidak lagi terbatas pada latar belakang keluarga tertentu. Sebab, selama ini profesi dokter kerap dipersepsikan sebagai profesi ‘darah biru’.

“Tidak banyak memang dokter yang berasal dari keluarga non-dokter. Selain faktor biaya pendidikan yang cukup tinggi, proses pembelajaran juga membutuhkan pengetahuan tambahan dan pengalaman yang sering kali lebih mudah diperoleh dari lingkungan keluarga dokter. Karena itu, tidak jarang keluarga dokter melahirkan dokter kembali,” ujarnya.

Baca Juga:  Unusa dan KCGI Jepang Buka Peluang Kerja Sama Pengembangan Pemanfaatan AI untuk Transformasi Pendidikan

Prof Bus, sapaan Budi Santoso juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai dokter generasi pertama di keluarganya.

“Saya sendiri bukan berasal dari keluarga dokter. Namun setelah itu, anak saya dan keluarga dekat saya kemudian menjadi dokter. Artinya, akses ini bisa terbuka dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Rektor Unusa Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA IPU ASEANEng menegaskan, capaian ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas dan berkeadilan.

Menurutnya, hadirnya mayoritas dokter dari keluarga non-dokter adalah bukti nyata, pendidikan tinggi, termasuk kedokteran, tidak boleh eksklusif. Unusa berkomitmen menghadirkan pendidikan kedokteran yang inklusif.

Baca Juga:  Fakultas Kedokteran Gigi Unair Duduki 51 QS World University Rankings Dentistry 2026

“Fakta bahwa 84 persen dokter baru kami berasal dari keluarga non-dokter menunjukkan bahwa kesempatan itu terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dan tekad. Ini bukan hanya capaian akademik, tetapi juga capaian sosial,” tegasnya.

Prof Tri Yogi menyebut, keberhasilan ini harus menjadi inspirasi sekaligus pesan kuat bagi masyarakat luas.

“Kami ingin mengirimkan pesan bahwa menjadi dokter bukan lagi monopoli kelompok tertentu. Ini adalah profesi mulia yang harus bisa diakses oleh anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang,” terangnya.

Benta Malika El Ghameela, dokter baru yang bukan dari keluarga dokter mengatakan, perlu perjuangan lebih keras jika bukan berasal dari keluarga dokter.

Sebab, belum ada gambaran seperti apa proses pembelajaran di Fakultas Kedokteran, baik pada jenjang pendidikan sarjana kedokteran maupun saat menjalani profesi dokter.

“Tentu mereka yang berasal dari keluarga dokter, keluarganya sudah memberikan bayangan apa saja yang akan dilalui,” katanya.

Baca Juga:  Wamenkes Hadir di ICTOH 2026 Unair, Ungkap Masa SMP hingga SMA Fase Paling Rawan bagi Remaja Mulai Mengenal Rokok

Benta bersyukur setelah ia diterima di FK Unusa, dua sepupunya juga mengikuti jejaknya, diterima di kedokteran.

“Jadi, saya diibaratkan sebagai orang yang membuka pintu untuk keluarga besar dan dijadikan contoh bahwa orang biasa juga mampu di kedokteran,” ujar Benta yang berasal dari keluarga pedagang.

Unusa terus berupaya memperluas akses pendidikan melalui berbagai skema dukungan, termasuk pembinaan akademik, penguatan karakter, serta lingkungan belajar yang adaptif dan suportif.

Pelantikan ini tidak hanya menjadi momen akademik, namun juga simbol perubahan sosial bahwa profesi dokter kini semakin terbuka, inklusif, dan dapat diraih oleh siapa saja. (aci)