Pendidikan
ITS Atur Jadwal Praktikum Mahasiswa pada Penerapan WFH di Kampus
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) akan melakukan penyesuaian jadwal pembelajaran mata kuliah bagi mahasiswa terkait kebijakan Work From Home (WFH).
Kebijakan WFH ini menyusul Surat Edaran (SE) Kemendikti Saintek Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pola Kerja dan Penyesuaian Kegiatan Akademik yang ditujukan untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS).
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD mengatakan, aturan WFH bagi mahasiswa tidak bisa diterapkan pada semua kelas mata kuliah. Sebab, ada beberapa mata kuliah yang membutuhkan praktikum di kampus secara langsung.
“Ada kelas-kelas yang harus ada laboratoriumnya, jadi enggak bisa kalau harus WFH. Oleh karena itu, kita harus mengatur seandainya harus WFH sehari kan (aturan dari) pemerintah, nanti kita akan melihat lagi kira-kira mata kuliah apa yang berjalan, apakah ada kegiatan laboratorium atau enggak,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Bambang menegaskan, penerapan kebijakan itu juga tidak bisa disamaratakan pada satu hari yang sama. Namun, harus selalu disinkronkan dan dapat berubah-ubah sesuai dengan jam dan kebutuhan mata kuliah.
“Karena mengubah kelas itu juga enggak semudah pindah sana, pindah sini karena semua sudah ada jamnya dan ini sangat padat,” tegasnya.
Bambang menjelaskan, keputusan dari surat edaran tersebut akan dijalankan mulai minggu depan dengan penerapan empat hari kuliah dan satu hari WFH.
“Aturan pemerintah adalah (WFH setiap hari) Jumat dan kita lihat apakah benar-benar Jumat bisa kita kosongkan atau separuh-separuh gitu. Ini yang sedang kita rapatkan,” jelasnya
Menurut Bambang, aturan itu akan lebih mudah diterapkan untuk mahasiswa tingkat akhir. “Itu malah relatif mudah kalau sudah mahasiswa-mahasiswa akhir, kuliahnya tinggal sedikit,” katanya.
Sedangkan, penerapan kebijakan WFH akan menjadi cukup sulit dijalankan bagi mahasiswa tingkat awal karena masih memiliki jadwal mata kuliah yang padat.
“Kita ingin mengubah kultur belajar mereka, kita ingin memasukkan budaya mandiri, budaya kuliah itu kan sulit kalau semuanya dari awal sudah online. Ini yang harus kita pikirkan juga,” ungkapnya.
Di sisi lain, terkait kebijakan WFH bagi karyawan dan dosen, Bambang juga mengatakan belum dapat memastikan apakah akan disamakan dengan jadwal pembelajaran mahasiswa atau masuk secara bergiliran.
“Misalnya Jumat tetap masuk, itu karyawan dan dosen juga harus masuk karena yang menyiapkan kelasnya juga harus ada. Jadi, apakah mungkin kita akan jadwalkan karyawan masuk separuh, di sana separuh dan seterusnya,” ujarnya.
Pihaknya juga telah memastikan segala sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran jarak jauh bagi para pengajar. Namun, hal itu masih tidak memungkinkan untuk diterapkan pada pembelajaran praktik yang harus menggunakan laboratorium.
“Sehingga, ini harus kita pikirkan bagaimana bisa kita lakukan (pembelajaran) jarak jauh atau hanya pembelajaran dengan lab saja yang nanti masuk karena kita harus memastikan lulusan nanti sesuai dengan kompetensi yang kita janjikan,” pungkasnya. (aci)


