Inovasi Rehabilitasi Robotik Asia-Pasifik Hadir di BTL Robotics Academy 2026 Bali

NUSA DUA, SURYAKABAR.com – Perkembangan teknologi rehabilitasi robotik dan masa depan layanan neurorehabilitasi kini mulai menyasar kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia.

Melihat peluang itu, PT BTL Indonesia menggelar BTL Robotics Academy 2026 di Hilton Bali Resort, Nusa Dua, Bali, Kamis dan Jumat (4-5/6/2026).

Mengusung tema “Shaping the Future of Neurorehabilitation in the APAC Region”, forum regional ini mempertemukan para pemangku kebijakan, dokter spesialis, tenaga kesehatan, akademisi, manajemen rumah sakit, serta pakar internasional.

BTL Robotics Academy dirancang sebagai platform edukasi dan kolaborasi yang menggabungkan seminar ilmiah, diskusi bersama pakar internasional, studi kasus klinis, pameran teknologi, serta sesi hands-on workshop.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh kesempatan untuk memahami perkembangan terbaru rehabilitasi robotik, mengeksplorasi penerapannya dalam praktik klinis, serta mencoba langsung teknologi rehabilitasi modern yang dikembangkan untuk mendukung pemulihan pasien dengan gangguan neurologis.

Kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran resmi BTL Exo dan BTL Walk di Indonesia. Kedua inovasi tersebut merupakan bagian dari portofolio teknologi rehabilitasi BTL yang dikembangkan untuk mendukung pemulihan fungsi berjalan, mobilitas, dan kemandirian pasien, terutama pada pasien pascastroke dan gangguan neurologis lainnya.

Pemulihan pasien stroke dan gangguan neurologis masih menjadi tantangan penting bagi sistem kesehatan, tidak hanya di Indonesia, namun juga di kawasan Asia-Pasifik.

Baca Juga:  Lomba Robotika dan Internet of Things PCU Diikuti Ratusan Pelajar dan Mahasiswa

Stroke dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup pasien, kemandirian keluarga, produktivitas, serta keberlanjutan pembiayaan kesehatan.

Dalam konteks tersebut, layanan rehabilitasi memiliki peran penting sebagai bagian dari kesinambungan pelayanan kesehatan, mulai dari fase akut, pemulihan, hingga reintegrasi pasien ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bagian dari transformasi kesehatan di Indonesia, penguatan layanan rehabilitasi juga semakin relevan dalam kerangka prioritas nasional, termasuk penguatan layanan rujukan untuk penyakit katastrofik seperti kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi (KJSU).

Pada pengelolaan stroke, fase rehabilitasi menjadi komponen penting agar pasien tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memulihkan fungsi tubuh, mobilitas, dan kualitas hidup secara lebih optimal.

Perwakilan Menteri Kesehatan RI dr Yuli Farianti Mepid mengatakan, perkembangan teknologi rehabilitasi perlu dilihat sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas layanan kesehatan dan meningkatkan harapan pemulihan pasien.

“Forum ilmiah ini merupakan momentum penting untuk memadukan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi demi mendukung pemulihan fungsi serta kemandirian pasien dengan gangguan neurologis,” ujarnya.

Sedangkan, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI drg Putih Sari dalam sambutannya menekankan pentingnya memperkuat layanan rehabilitasi sebagai bagian dari investasi jangka panjang sistem kesehatan.

“Dalam pengelolaan stroke, fase pemulihan sangatlah penting. Pasien membutuhkan dukungan rehabilitasi yang konsisten, intensif, dan berkelanjutan untuk mendapatkan kembali mobilitas, fungsi tubuh, dan martabat mereka,” terangnya.

Baca Juga:  Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Prodi Baru Untag Surabaya

drg Putih menyebut, adopsi teknologi kesehatan perlu dilakukan secara bertanggung jawab, berbasis bukti, serta didukung oleh kesiapan sumber daya manusia, sistem pelayanan, pembiayaan, dan akses yang berkeadilan.

Direktur PT BTL Indonesia Yosua Agus Widodo menegaskan, BTL Robotics Academy tidak hanya menjadi forum peluncuran produk, namun juga wadah untuk memperkuat ekosistem rehabilitasi robotik di Indonesia.

“Melalui BTL Robotics Academy, kami ingin membangun ruang kolaborasi antara dokter spesialis, tenaga rehabilitasi medis, rumah sakit, akademisi, dan pembuat kebijakan. Tujuannya adalah memastikan teknologi rehabilitasi robotik dapat dipahami secara tepat, diterapkan secara bertanggung jawab, dan memberikan manfaat nyata bagi pemulihan pasien,” tegasnya.

Menurut Yosua, pengembangan teknologi rehabilitasi tidak dapat hanya berfokus pada perangkat, namun juga harus memperhatikan kesiapan sistem, pelatihan tenaga kesehatan, kesinambungan operasional, dukungan teknis, serta bukti klinis yang relevan dengan kebutuhan pasien dan fasilitas kesehatan di Indonesia.

Dalam forum ini, BTL Indonesia memperkenalkan berbagai teknologi rehabilitasi robotik dan inovasi pendukung rehabilitasi medis, termasuk BTL R-Gait, BTL R-Force, BTL Exo, BTL Walk, BTL R-Touch, dan BTL R-Lead.

Teknologi-teknologi tersebut dirancang untuk mendukung latihan rehabilitasi yang lebih terukur, intensif, konsisten, dan terdokumentasi secara digital, sehingga dapat membantu tenaga kesehatan dalam memantau perkembangan pasien secara lebih objektif.

Baca Juga:  Inovasi Visual Flora Fauna bagi Tunarungu Antarkan Mahasiswa UMM Juara Nasional

BTL Robotics Academy 2026 diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan layanan rehabilitasi modern di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.

Melalui kombinasi edukasi ilmiah, pengalaman langsung, dan dialog strategis, forum ini diharapkan mampu mendorong adopsi inovasi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada hasil klinis pasien.

Ke depan, BTL Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kualitas layanan rehabilitasi medis melalui edukasi berkelanjutan, kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan institusi pelayanan, serta pengenalan teknologi yang dapat membantu pasien memulihkan kemandirian dan kualitas hidup.

Sebagai informasi, BTL Robotics Academy menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan internasional.

Antara lain Ketua PP PERDOSRI Dr dr Rumaisah Hasan SpKFR NM(K) AIFO-K FEMG, pakar neurorehabilitasi dan robotik dari Italia Prof Paolo Milia MD PhD, dan Senior Clinical Researcher dr Sanaz Pournajaf DPT PhD.

Kemudian, Business Development Manager BTL Robotics International Marko Burnik, serta sejumlah pakar rehabilitasi medis, neurologi, dan praktisi klinis dari berbagai negara. (aci)