Berita Sidoarjo
Ngobrol Ekonomi hingga Dini Hari, Forwas Bahas Masa Depan Sidoarjo
SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Suasana diskusi terasa hangat di Balai Wartawan Sidoarjo, Jalan Ahmad Yani, Jumat (6/3/2026) malam hingga Sabtu (7/3/2026) dinihari. Dalam agenda rutin di bulan Ramadhan bertajuk Tadarus Jurnalistik, Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas) mengajak berbagai kalangan duduk bersama membahas masa depan ekonomi daerah.
Jurnalis, pelaku usaha, mahasiswa, hingga perwakilan pemerintah daerah terlibat dalam obrolan yang berlangsung santai namun penuh gagasan.
Diskusi berlangsung hingga dini hari, menyoroti tantangan pembangunan Kabupaten Sidoarjo di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika dalam negeri.
Dua narasumber utama hadir dalam forum tersebut, yakni Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sidoarjo M Ubaidillah Nurdin dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Sidoarjo, Bahrul Amig.
Gus Ubaid, panggilan akrab Ubaidillah Nurdin menilai pelaku usaha perlu lebih jeli membaca perubahan perilaku konsumen, terutama dari generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha. Menurutnya, tren visual kini menjadi salah satu faktor penting dalam menarik minat pasar.
“Pelaku usaha harus mampu membaca perilaku konsumen. Saat ini tempat yang instagramable menjadi tren. Kreativitas diperlukan agar usaha tetap relevan sekaligus efisien,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar internasional.
Kadin Sidoarjo, kata dia, telah bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk membantu UMKM memenuhi standar ekspor.
Beberapa produk lokal bahkan telah menembus pasar luar negeri, mulai dari kopi yang dikirim ke Inggris hingga berbagai olahan kerupuk khas Sidoarjo.
“Kami tidak hanya melatih, tetapi juga mempertemukan UMKM dengan pembeli. Pendampingan dilakukan dari proses produksi sampai produk benar-benar berhasil diekspor,” kata Ubaidillah.
Sementara itu, Bahrul Amig menilai birokrasi juga perlu beradaptasi dengan dinamika ekonomi yang bergerak cepat. Pemerintah, menurut dia, harus mampu menyeimbangkan fungsi regulasi dengan ruang inovasi bagi masyarakat.
“Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan otoritas. Harus ada keseimbangan antara regulasi dan kebutuhan dunia usaha,” ujarnya.
Ia juga mendorong pola pemberdayaan ekonomi yang lebih kolaboratif. Pemerintah, kata dia, dapat melibatkan pelaku usaha yang telah berhasil untuk membimbing UMKM yang baru merintis.
“Pendampingan akan lebih efektif jika dilakukan oleh pelaku usaha yang sudah berpengalaman, mulai dari produksi sampai pemasaran,” kata Amig.
Dalam sesi diskusi, berbagai masukan juga muncul dari peserta. Beberapa mahasiswa menyoroti efektivitas program pelatihan kerja yang dinilai belum maksimal, sementara pelaku UMKM berharap pemerintah lebih aktif memfasilitasi akses pasar dan pembiayaan.
Melalui forum ini, Forwas berharap tercipta ruang dialog yang lebih terbuka antara pers, pemerintah, dan dunia usaha. Sinergi tersebut dinilai penting agar ekonomi daerah tetap tumbuh dan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (sat)




