Pendidikan
Ratusan Siswa SD Muhammadiyah 18 Surabaya Ikuti Simulasi Hadapi Bencana Gempa, BPBD Jatim Edukasi di Kelas Inspirasi

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur (BPBD Jatim) bekerja sama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memberikan edukasi dan simulasi dalam menghadapi bencana gempa bumi kepada ratusan siswa SD Muhammadiyah 18 Mulyorejo Surabaya, Kamis (11/12/2025).

Para siswa dilatih mulai bagaimana cara berlindung, menyelamatkan diri, hingga mengevakuasi masyarakat maupun korban bencana.

Perwakilan BPBD Jatim Dicky Afrianto mengatakan, ada 14 ancaman bencana yang terjadi di Jawa Timur. Namun, edukasi kali ini difokuskan pada bencana gempa bumi, karena dinilai sebagai bencana yang tidak bisa diprediksi.

“Pentingnya edukasi ini karena sesuai dengan Undang-Undang Kebencanaan, yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 di mana setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan tentang kebencanaan. Maka dari itu, BPBD Provinsi Jawa Timur mengedukasikan kepada seluruh masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.

Baca Juga:  MPLS SD Muhammadiyah 18 Surabaya Hadirkan Captain America dan Iron Man

Dicky menjelaskan, materi yang diajarkan kepada siswa ini sesuai program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang rutin digelar setiap tahun, dengan berkeliling di 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Termasuk di sekolah maupun pondok pesantren yang rawan terjadi ancaman bencana.

“Kita bentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana supaya masyarakat atau siswa itu tanggap ancaman bencana yang terjadi di lingkungannya,” jelasnya.

Kepala SD Muhammadiyah 18 Mulyorejo Surabaya Achmad Barizi SPd Gr MPd mengatakan, edukasi dan simulasi dalam menghadapi bencana gempa bumi ini merupakan rangkaian Kelas Inspirasi yang tahun ini mengusung tema “Mitigasi Bencana Tanggap dan Siaga Bencana sejak Dini” dan diikuti 100 siswa kelas 6.

Baca Juga:  Unesa Lelang Jersey Marselino dan Shin Tae-yong untuk Bantu Korban Terdampak Bencana Sumatera

“Yang pertama tentunya memberikan pendidikan terhadap anak sadar dan paham tentang bencana alam, juga mereka paham cara menangani, baik hal-hal yang sederhana mulai dari mereka berlindung ketika ada gempa atau mematikan api atau memadamkan api ketika ada kebakaran,” ungkapnya.

“Anak-anak simulasi tentang bagaimana mereka aman dari gempa, kemudian mereka menolong teman ketika ada yang cedera, serta mereka simulasi sekaligus belajar bagaimana mereka memadamkan api ketika kebakaran,” sambungnya.

Edukasi dan simulasi dalam menghadapi bencana diikuti siswa kelas 6, sedangkan kelas 4 dan 5 diberikan edukasi melalui buku dan visual dengan mendatangkan Mosipena atau Mobil Edukasi Penangggulangan Bencana BPBD Jatim.

Baca Juga:  Mentrans Hadir di FDGBI ITS, Tekankan Peran Transmigrasi untuk Ekonomi Baru Indonesia

“Anak terinspirasi secara profesi karena memang terutama kita menghadirkan relawan dan juga profesional dari BPBD, mereka terinspirasi bagaimana seharusnya ke depan tentang cita-cita, tentang penolong dan itu harus kita tanamkan sejak dini,” terangnya.

Ken Arsana Dian Tristano, salah satu siswa kelas 6 mengaku baru pertama kali diberikan edukasi dan simulasi dalam menghadapi bencana gampa bumi. Sehingga, ia dapat mengetahui sekaligus bisa tetap siaga jika terjadi bencana.

“Tadi memeragakan sebagai korban, saya diangkat terus dibawa dan ditaruh lagi. Belum pernah sebelumnya, ini seru dan penting semisal ada bencana alam menimpa kita, kita harus tetap siaga,” pungkasnya. (aci)