Pilkada Surabaya
Gus Hans Daftar Bacawawali ke PDI-P, Rekom Golkar Tak akan Bisa Pindah ke Lain Hati

SURABAYA, SURYAKABAR. com – Pengurus DPD Partai Golkar Jatim KH Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans) telah diusulkan DPD Partai Golkar Surabaya menjadi pendamping Machfud Arifin (MA) yang diusung koalisi delapan parpol (PKB, Gerindra, Golkar, PKS, Demokrat, PAN, NasDem, dan PPP).

MA masih belum menentukan siapa yang dipilih, namun Gus Hans sudah bermanuver. Dia mendaftar ke DPD PDI-P Jatim, Jumat (21/8/2020) malam. Karena pendaftaran sudah ditutup sejak September lalu, Gus Hans disarankan mendaftar ke DPP. Berbekal surat pengantar dari Ketua DPD PDI-P Jatim Kusnadi, mantan juru bicara Khofifah Indar Parawansa pada Pilgub Jatim 2018 ini pun datang ke Jakarta mendaftar ke DPP.

Saat ini muncul berbagai spekulasi, jika Gus Hans dan Partai Golkar pecah. Semula Golkar yang jadi salah satu parpol pengusung MA, mengusulkan Gus Hans jadi pendamping MA. Di sisi lain, dia justru menyeberang ke PDI-P dan mendaftar menjadi bakal calon wakil wali kota.

Apakah Gus Hans mbalelo? Ketika dikonfirmasi, Gus Hans enggan menjawab secara rinci. Dia hanya memberi contoh situasi yang dialami ini pernah dilakukan petinggi Partai Golkar Jusuf Kalla (JK). “Pak JK dulu bagaimana?” tanya dia.

Lebih jauh,Gus Hans mengatakan, kalau Partai Golkar komitmen mengutamakan kader dan kalangan milenial, pasti dirinya juga bisa saling respek.

BACA JUGA:

Selain Partai Golkar, Gus Hans juga mengikuti penjaringan di Partai Gerindra, NasDem dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dia mengaku sangat mengapresiasi, tetapi semua itu kan berproses. “Yang jelas, saatnya Nahdliyin harus terlibat dalam Pilkada Surabaya, jangan hanya jadi penonton saja. Meski saya Nahdliyin tapi tidak akan melibatkan NU secara lembaga. Bahkan, saat Pilgub 2018 saya mundur dari PWNU Jatim,” tandasnya.

Sebelumnya, pakar politik Universitas Wijaya Putra Dr Dwi Prasetyo mengatakan, mendekati pendaftaran calon ke KPU, nama Whisnu Sakti menjadi rebutan untuk digandeng menuju kursi Balai Kota. Bahkan, sebelumnya sempat beredar foto Whisnu Sakti Buana – Gus Hans. “Ini bisa dipahami jika garis nasionalis masih diperhitungkan untuk kepentingan Pilkada Surabaya,” terangnya.

Munculnya gambar Whisnu Sakti – Gus Hans, menurut dia, sebenarnya penuh risiko. Karena Partai Golkar sudah bergabung dengan koalisi besar mengusung Machfud Arifin. Di sisi lain, Golkar tak punya alasan kuat untuk mencabut dukungan kepada mantan Kapolda Jatim itu.

Secara etika politik, Dwi menyebutkan sebagai kader parpol, tidak baik bila berbeda dengan kebijakan politik induk parpolnya. “Tanpa Golkar, Gus Hans tidak akan mendapat tiket maju pilkada bersama Whisnu Sakti,” tegasnya.

Di sisi lain, Ketua DPD Partai Golkar Jatim Sarmuji menegaskan, rekomendasi Partai Golkar tidak akan bisa pindah ke lain hati. “Partai Golkar sudah mengeluarkan surat penetapan sementara ke Pak Machfud Arifin,” tegasnya.

Sementara Wakil Ketua Umum Barisan Kader Gus Dur (Barikade Gus Dur), Sudarsono Rahman menyatakan, calon wali kota PDI-P berpeluang menang pilkada jika menggandeng kader NU. Tapi bukan hanya Gus Hans satu-satunya kader NU yang running pilkada. Masih ada Dwi Astutik dan Lia Istifhama yang memiliki basis dukungan nyata dari Fatayat dan Muslimat NU.

“Gus Hans memang orang NU. Dia putra kiai dan besar di lingkungan Pesantren Darul Ulum di Jombang. Tapi yang paling memungkinkan ya Lia, karena memiliki jaringan lumayan di Surabaya dan dekat dengan unsur perempuan NU,” pungkasnya. (be)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *