Ibu asal Sumenep Lahirkan Bayi Kembar lewat Program Bayi Tabung setelah Penantian 22 Tahun
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Kebahagiaan terpancar dari wajah pasangan suami istri (pasutri) asal Sumenep, Madura, Riza Yusuf Santoso (43) dan Aminatuzzahra (41) setelah resmi memiliki bayi kembar sepasang dalam kondisi sehat.
Bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan ini lahir setelah penantian panjang selama 22 tahun, dan perjuangan melalui program bayi tabung In Vitro Fertilization (IVF) di Morula IVF Surabaya.
Bayi kembar yang lahir, Kamis (2/7/2026) dan kini diberi nama Ryan dan Raina ini melewati hanya satu kali percobaan program IVF.
Yusuf menceritakan, sejak menikah di usia muda, ia dan sang istri, Mina telah berupaya mendapatkan keturunan dengan berbagai cara.
Mulai berkonsultasi ke sejumlah dokter, mencoba pengobatan alternatif, hingga mendatangi orang-orang yang direkomendasikan kerabat. Namun, seluruh usaha tersebut belum membuahkan hasil.
Hingga akhirnya mendapatkan informasi dari Somidi, tetangganya di Sumenep, yang mendapatkan keturunan melalui program bayi tabung di Morula IVF Surabaya bersama dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas, dr Benediktus Arifin MPH SpOG(K) atau akrab disapa dr Benny.
“Selama beberapa tahun kami usaha ke sana ke sini, ya cuma belum ketemu jawabannya. Kami hampir pasrah. Sampai akhirnya kami memutuskan program bayi tabung dan ini adalah perjuangan terakhir,” ujar Yusuf, Sabtu (25/7/2026).
Yusuf mengakui keputusan tersebut tidak mudah. Setiap kali menjalani pemeriksaan dan terapi, Yusuf dan Mina harus menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Sumenep menuju Surabaya.
Namun, jarak yang jauh tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus berikhtiar. Di balik perjuangan itu, kondisi medis Mina ternyata menjadi tantangan tersendiri.
dr Benny menjelaskan, hasil pemeriksaan menunjukkan kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) Mina hanya 0,1. Padahal, kadar AMH normal yang mencerminkan cadangan sel telur perempuan umumnya berada di kisaran 2 hingga 3.
“AMH 0,1 berarti cadangan telurnya sangat rendah, sekitar 15 sampai 20 kali di bawah normal. Kondisinya bahkan sudah mengarah ke premenopause,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, peluang kehamilan secara medis tergolong kecil. Sebelum menjalani program IVF, Mina juga harus menjalani tindakan laparoskopi untuk memperbaiki saluran telurnya.
Selama kurang lebih delapan bulan, tim Morula IVF Surabaya mendampingi seluruh proses terapi. Dari rangkaian prosedur tersebut, hanya diperoleh dua embrio berkualitas baik yang kemudian ditanam.
“Kami menanam dua embrio pada hari kelima. Alhamdulillah, keduanya berkembang menjadi kehamilan,” ungkapnya.
Kehamilan kembar di usia Mina yang telah menginjak 41 tahun pun membutuhkan pemantauan intensif. Meski sempat menjalani perawatan saat usia kehamilan memasuki tujuh hingga delapan bulan, kondisi ibu dan janin berhasil dipertahankan hingga usia kehamilan sekitar 36-37 minggu.
Pada Kamis, 2 Juli 2026, Ryan lahir terlebih dahulu, disusul sang adik perempuan, Raina. Tangis keduanya menjadi momen yang menghapus penantian Yusuf dan Mina selama 22 tahun.
Bagi dr Benny, kasus tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang menangani pasien fertilitas.
“Kasus dengan penantian 22 tahun, AMH 0,1, kemudian berhasil hamil bayi kembar, ini pertama kali saya alami,” katanya.
Menurut dr Benny, kisah Yusuf dan Mina menunjukkan bahwa peluang mendapatkan kehamilan tetap ada meski kondisi pasien tidak ideal.
Namun, ia mengingatkan pasangan yang merencanakan kehamilan agar tidak menunda pemeriksaan kesuburan, terutama setelah usia memasuki 35 tahun.
“Semakin bertambah usia, kualitas sel telur dan sperma akan menurun. Jangan ragu berkonsultasi agar peluang mendapatkan kehamilan tetap terjaga,” terangnya.
Kini, rumah Yusuf dan Mina yang selama bertahun-tahun terasa sunyi berubah dipenuhi tangisan dan tawa dua bayi mungil. Kesibukan menggendong, menidurkan, hingga bergantian mengganti popok menjadi rutinitas baru yang mereka syukuri setiap hari.
Bagi Yusuf, seluruh perjuangan itu terbayar lunas. Ia pun hanya memiliki satu pesan bagi pasangan yang masih berjuang mendapatkan buah hati. “Tetap semangat. Jangan menyerah,” tegasnya.
Kalimat singkat itu menjadi penutup dari perjalanan panjang selama 22 tahun. Sebuah kisah yang menunjukkan bahwa di balik kemajuan teknologi reproduksi, harapan tetap dapat tumbuh selama ikhtiar terus dilakukan dan keyakinan tidak pernah padam. (aci)


