Pendidikan
Sonia Elvira Salim Pilih Kuliah PPDS di Unusa meski Satu-satunya Mahasiswa Non Muslim
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kini membuktikan sebagai kampus yang inklusif dan menjunjung tinggi toleransi.
Hal itulah yang menjadi salah satu alasan bagi dr Sonia Elvira Salim untuk melanjutkan kuliah di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) di Unusa.
dr Sonia merupakan penganut Kristen Protestan, dan baru dikukuhkan sebagai mahasiswa baru PPDS bersama sembilan mahasiswa lainnya. dr Sonia merupakan satu-satunya mahasiswa non muslim pada angkatan pertama PPDS Unusa pada Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) serta Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).
dr Sonia mengatakan, Unusa selain sebagai kampus yang inklusif dan penuh toleransi, ia memilih Unusa agar lebih dekat dengan keluarganya di Surabaya.
Selain itu, Unusa juga sudah memiliki dua rumah sakit besar di Surabaya, yakni RSI A. Yani dan RSI Jemursari Surabaya.
“Saya kan sebelumnya kerja di Kalimantan Barat, di sebuah rumah sakit kabupaten. Dengan diterima kuliah di Unusa, jadi bisa dekat keluarga lagi,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Perempuan kelahiran 1998 itu sudah mencari referensi sebelum kuliah di Unusa tentang perkuliahan dan para pengampunya. “Dosennya semua mumpuni, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak kuliah di Unusa,” ungkapnya.
dr Sonia menjelaskan, jika memang harus menempuh pendidikan spesialis, ia ingin memilih di bidang obgyn. Alasannya sederhana. Pengalaman menjadi dokter di Puskesmas di Kalimantan Barat membuat tekad itu semakin besar.
“Di sana masih ada anak-anak stunting, kasus kematian ibu hamil. Gizi buruk juga masih ada. Saya ingin mengabdi,” jelasnya.
Keluarga mendukung sepenuhnya keputusan dr Sonia dalam memilih program studi (prodi) di Unusa, yakni Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Obgyn). “Memilih prodi hingga memilih kampus, keluarga mendukung. Dan ternyata saya tidak salah pilih,” tegasnya.
Di sisi lain, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unusa Prof Dr dr Budi Santoso menegaskan, sebagai penganut Nasrani, dr Sonia memang terlihat berbeda dari yang lain.
Menurutnya, kehadiran dr Sonia menjadi bukti bahwa Unusa adalah kampus inklusif, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang ras, suku dan agama. “Jadilah Sonia yang apa adanya saat ini, tanpa harus mengubah identitas,” tegasnya.
Sebagai informasi, Unusa mengukuhkan 10 mahasiswa baru PPDS angkatan pertama dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi (Obgin), Selasa (7/7/2026).
Pembukaan PPDS Paru dan PPDS Obstetri dan Ginekologi merupakan bagian dari upaya mendukung program pemerintah dalam mempercepat pemenuhan dan pemerataan dokter spesialis di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga medis.
Sehingga, Unusa tidak hanya berfokus pada kualitas pendidikan, namun juga memastikan lulusannya memiliki komitmen untuk kembali mengabdi di daerah asal.
Komitmen tersebut tercermin dari seluruh mahasiswa angkatan pertama yang telah menandatangani surat pernyataan untuk kembali bertugas di instansi atau daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan spesialis.
Sehingga, penyelenggaraan PPDS di Unusa diharapkan memberikan dampak nyata terhadap pemerataan layanan kesehatan, khususnya di Jawa Timur dan Indonesia secara lebih luas. (aci)


