Pendidikan
Mahasiswa Unesa Budidaya Lele Gunakan Sistem Bioflok, Kenalkan Diversifikasi Pangan ke Masyarakat

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Mahasiswa Program Studi (Prodi) S1 Akuakultur Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) budidaya lele menggunakan sistem bioflok.

Sistem bioflok merupakan teknologi budidaya yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk mengurai sisa pakan dan kotoran ikan menjadi flok yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber nutrisi.

Metode ini dinilai lebih efisien dalam menjaga kualitas air, mengurangi pergantian air kolam, serta mendukung budidaya ikan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kegiatan yang dilakukan mahasiswa FKP Unesa ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Dasar-Dasar Akuakultur yang dirancang untuk memberikan pengalaman praktik langsung kepada mahasiswa.

Baca Juga:  Unesa Gandeng Jawa Power YTL Gelar Kursus Pelatih Sepak Bola Lisensi D

Mahasiswa praktik langsung melalui pembelajaran berbasis team project. Selain itu, juga terlibat dalam seluruh tahapan budidaya, mulai dari pembenihan, pembesaran ikan, pengelolaan kualitas air, hingga pemantauan kesehatan ikan.

Koordinator Prodi S1 Akuakultur Unesa Reni Ambarwati mengatakan, panen simbolis menjadi penanda keberhasilan mahasiswa dalam menjalankan proses budidaya yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

“Budidaya lele dengan teknik bioflok ini merupakan bentuk implementasi langsung dari materi yang dipelajari mahasiswa di kelas. Mereka belajar mulai dari pembenihan, pembesaran ikan, menjaga kualitas air, hingga memantau kesehatan ikan secara berkelanjutan,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Baca Juga:  250 Hewan Pilihan dari Australia Tiba di Juanda, Dorong Ketahanan Pangan dan Ekowisata

Reni menegaskan, keberhasilan panen tidak hanya menunjukkan capaian produksi, namun juga mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu, membangun kerja sama tim, serta menyelesaikan berbagai tantangan selama proses pemeliharaan.

Setelah panen simbolis, kegiatan dilanjutkan dengan tasyakuran yang dikemas secara unik melalui penyajian tumpeng berbahan dasar lele.

Konsep tersebut dipilih sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengenalan inovasi pangan berbasis sumber daya perairan atau yang dikenal sebagai pangan biru (blue food).

Baca Juga:  Mahasiswa ITS Rancang AERIS, Identifikasi Wilayah Risiko Tinggi Kasus DBD

“Proses budidaya ikan membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, dan dedikasi tinggi. Mahasiswa harus secara rutin memberikan pakan, mengecek kualitas air, serta memastikan ikan terbebas dari penyakit maupun serangan parasit,” tegas pakar Biosistemika Organisme Perairan itu.

Menurutnya, penggunaan tumpeng lele juga menjadi upaya untuk memperkenalkan diversifikasi pangan kepada masyarakat. Selama ini lele lebih dikenal sebagai menu konsumsi harian, padahal dapat diolah menjadi berbagai sajian yang menarik dan bernilai gizi tinggi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa lele dapat diolah menjadi hidangan yang kreatif, termasuk menjadi tumpeng. Ini sekaligus menjadi bentuk promosi keberagaman pangan berbasis sumber protein perairan. Kami berharap masyarakat semakin gemar mengonsumsi ikan dan hewan akuatik lainnya sebagai sumber protein yang baik bagi kesehatan,” terangnya.

Melalui kegiatan ini, ia berharap keterampilan budidaya dan pengolahan hasil perikanan diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam penguatan ketahanan pangan sekaligus menciptakan peluang usaha yang bernilai ekonomi. (aci)