Pendidikan
FK Unair Hadirkan Ahli Penanganan Cedera Otak Traumatik di Adjunct Professor

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) memperluas kolaborasi internasional dengan menghadirkan profesor dari Amerika Serikat dalam penanganan cedera otak traumatik atau Traumatic Brain Injury (TBI).

Yakni, Prof Kevin K W Wang PhD, Center for Neurotrauma Multiomics and Biomarkers (CNMB), Morehouse School of Medicine (MSM), Atlanta, Georgia, USA dalam Adjunct Professor Inauguration di Aula FK Unair, Rabu (21/10/2026).

Prof Kevin mengakui TBI masih menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia medis global. Menurutnya, hingga saat ini belum ada obat khusus untuk TBI yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) maupun di Eropa.

Meski demikian, para ahli menegaskan manajemen pasien yang lebih baik dapat menghasilkan luaran (outcome) klinis yang jauh lebih optimal bagi pasien.

“TBI memiliki spektrum kasus yang luas. Pada kasus yang paling parah, pasien biasanya harus dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU), di mana sebagian di antaranya bahkan tidak dapat diselamatkan,” ujarnya usai Adjunct Professor Inauguration di Aula FK Unair.

Prof Kevin menjelaskan, sekitar 80 hingga 85 persen dari keseluruhan kasus TBI tergolong sebagai cedera otak traumatik ringan. Menurtunya, pasien dalam kategori ini umumnya masih sadar dan terkadang tidak memerlukan rawat inap di rumah sakit.

“Namun, tantangan terbesar bagi tenaga medis adalah membedakan pasien ringan yang aman dipulangkan dengan pasien yang membutuhkan pengawasan ketat lebih lanjut,” jelasnya.

Baca Juga:  SEMNATEK 2026 FTMM Unair Perkuat Kolaborasi Multidisiplin untuk Dukung Transisi Energi Nasional

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Prof Kevin menegaskan, fokus penelitian saat ini beralih pada pengembangan tes berbasis darah. Tes ini mampu memantau perkembangan kondisi pasien dari waktu ke waktu, apakah kondisinya memburuk atau justru membaik.

Metode ini diharapkan dapat menekan angka mortalitas sekaligus meningkatkan keselamatan pasien. Berbeda dengan alat ukur lain seperti pencitraan (imaging) atau asesmen klinis yang sifatnya lebih subjektif dan sulit diukur secara berkala, tes darah dinilai jauh lebih kuantitatif dan presisi. Tes darah juga dapat dilakukan berulang kali, terutama pada minggu-minggu pertama pascacedera.

Selain alat diagnostik dan pencitraan, faktor pengubah (modifier) seperti latar belakang genetik dan usia juga memegang peranan penting terhadap tingkat pemulihan pasien. Pasien yang berusia lebih tua cenderung memiliki luaran yang lebih buruk akibat adanya variasi genetik tertentu.

“Melalui pendekatan ini, tenaga medis dapat mengidentifikasi pasien yang benar-benar membutuhkan alokasi sumber daya medis secara tepat, sehingga penanganan dapat difokuskan secara efisien kepada pasien yang paling membutuhkan,” ungkapnya.

Dekan FK Unair Prof Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawati SpOG SubspUrogin-RE mengatakan, kehadiran Prof Kevin diharapkan mampu membawa angin segar bagi perkembangan ilmu bedah saraf dan neurologi, khususnya pada penelitian ilmu dasar (basic science) dan penanganan cedera otak atau neurotrauma.

Menurutnya, kolaborasi ini dinilai sangat vital untuk mengikis batasan pemikiran lokal dan membawa sivitas akademika menuju wawasan serta standar riset internasional.

“Saat ini, kolaborasi internasional menjadi hal yang sangat penting bagi institusi pendidikan. Ini akan membuat sivitas akademika kita tidak hanya terpatok pada mindset lokal, tetapi juga terbawa pada pengetahuan, keterampilan, serta dunia penelitian dan community development di level internasional,” terangnya.

Baca Juga:  Unair Terima 2.771 Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2026, Kedokteran Peminat Tertinggi

Prof Eighty menegaskan, perkembangan ilmu bedah saraf saat ini mengalami kemajuan pesat, terutama didukung oleh teknologi modern dan riset ilmu dasar (basic science). Riset mengenai neurotrauma menjadi salah satu fokus utama karena dampaknya yang sangat luas di masyarakat.

“Di Indonesia, kasus neurotrauma terbanyak umumnya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Namun, kepakaran Prof Kevin juga membuka wawasan baru mengenai penanganan neurotrauma dari sudut pandang lain, seperti cedera kepala akibat aktivitas olahraga (sports injury),” terangnya.

Melalui sinergi riset dan penguatan teknologi biomarkers serta multiomiks ini, diharapkan kualitas pelayanan medis, diagnosis dini, serta penanganan pasien bedah saraf di Indonesia dapat terus meningkat menuju standar dunia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Departemen Ilmu Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Dr Wihasto Suryaningtyas SpBS(K) dr SubSp N-Ped mengatakan, penanganan kasus trauma kepala atau cedera otak di dunia medis kini telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan.

Fokus penanganan tidak lagi sekadar memastikan pasien bertahan hidup, melainkan bagaimana menjaga kualitas hidup (quality of life) korban ke depannya, baik secara fisik maupun mental.

Menurutnya, sistem pendukung (supporting system) yang kuat dalam penanganan neurotrauma. Sebab, banyak pasien yang selamat dari cedera kepala masih harus menghadapi berbagai gangguan fungsi sosial, seperti emosi yang tidak stabil di rumah hingga penurunan produktivitas kerja yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kita tidak ingin menumpuk ‘sampah’ dari hasil apa yang pernah kita tolong. Banyak dari pasien yang hidup, tapi fungsi sosialnya terganggu, di rumah sering marah-marah, di pekerjaan jadi lambat hingga diberhentikan,” tegasnya.

Baca Juga:  Universitas Brawijaya Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Pengolahan Sampah di Kawasan Hutan

Wihasto menyebut, untuk mencegah dampak jangka panjang tersebut, penanganan trauma kepala memerlukan kolaborasi yang sangat kuat.

Tidak hanya melibatkan dokter bedah saraf, penanganan ini juga membutuhkan sinergi dengan berbagai bidang keahlian lain, khususnya dalam manajemen dini (early management) guna mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien ke depan.

“Cakupan kasus neurotrauma sendiri kini semakin luas. Jika sebelumnya didominasi oleh kecelakaan lalu lintas, saat ini kasus cedera kepala akibat aktivitas olahraga (sports) serta kekerasan seperti perundungan (bullying) dan kekerasan di lingkungan sekolah pada anak-anak juga semakin marak,” ujarnya.

Di sisi lain, meski sekolah ramah anak telah banyak diterapkan, para ahli menilai upaya tersebut belum dapat menjamin 100 persen pencegahan terjadinya cedera. Sehingga, riset mendalam mengenai deteksi dini, manajemen awal, hingga analisis faktor risiko (modifier) seperti nutrisi, dukungan sosial, hingga dampak lingkungan terhadap pemulihan pasien menjadi fokus utama yang terus dikembangkan.

Dengan adanya riset dan kolaborasi yang komprehensif ini, dunia kedokteran berharap angka kecacatan jangka panjang akibat cedera otak, baik pada orang dewasa maupun anak-anak, dapat ditekan seminimal mungkin demi masa depan pasien yang lebih baik. (aci)