Jalur KA di Samping Lumpur Lapindo jadi Perhatian DJKA, Perlu Relokasi Jalur hingga Tulangan-Gununggangsir
SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Jalur kereta api (KA) yang berada di sisi Barat tanggul Lumpur Lapindo Porong, Sidoarjo, menjadi perhatian Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA).
Kondisi geologi di kawasan tersebut dinilai membutuhkan solusi permanen untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api.
Persoalan itu kembali dibahas seiring rencana pengembangan Surabaya Regional Railway Line (SRRL). Setelah SRRL Fase I-A rute Surabaya Gubeng-Sidoarjo memasuki tahap Detail Engineering Design (DED), DJKA mulai memetakan pengembangan jalur berikutnya.
Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah memperpanjang jaringan SRRL ke wilayah selatan melalui Porong. Namun, kondisi jalur KA di kawasan tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus diselesaikan.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya DJKA, Denny Michels Adlan, bersama perwakilan Bank Pembangunan Jerman (KfW), PT KAI Daop 8 Surabaya, serta Chodai selaku konsultan DED SRRL, melakukan survei dan tinjauan langsung di jalur KA Porong, Kamis (27/8/2026) pagi.
Denny mengatakan, jalur KA Sidoarjo-Tanggulangin-Porong hingga kini masih aman dan layak dilintasi. Namun, kondisi geologi di kawasan tersebut membuat mitigasi risiko perlu disiapkan sejak dini.
“Secara umum untuk saat ini masih aman dan layak dilintasi KA. Tetapi kita tidak pernah tahu manakala kondisi alam sewaktu-waktu mengalami perubahan akibat material yang terangkat ke permukaan secara terus-menerus,” kata Denny.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jalur KA di kawasan Porong selama ini harus mengalami peninggian sementara hampir setiap tahun. Karena itu, DJKA menilai diperlukan relokasi jalur agar persoalan tersebut dapat ditangani secara permanen.
Menurut Denny, DJKA sebelumnya telah memiliki rencana relokasi jalur KA yang melintas Sidoarjo-Tanggulangin-Porong. Jalur baru nantinya diarahkan melewati Tulangan hingga Gununggangsir.
“Kami mencoba menginisiasi kembali setelah sejak pandemi rencana relokasi kami berhenti,” ujarnya.
Rencana tersebut juga mendapat perhatian KfW. Denny mengatakan, pihak KfW tertarik mempelajari potensi permintaan perjalanan atau demand di sepanjang koridor Surabaya-Sidoarjo, termasuk kemungkinan pengembangan SRRL di luar cakupan fase yang saat ini dikerjakan.
“Sesuai permintaan Wakil Gubernur Jawa Timur untuk dapat mengembangkan SRRL di luar lingkup fase yang sudah ada, saat ini kami melihat secara langsung bagaimana yang sebenarnya terjadi bersama KfW,” kata Denny.
Dalam survei tersebut, DJKA juga menyampaikan kepada KfW mengenai berbagai kajian yang pernah dilakukan terkait relokasi jalur KA, termasuk pekerjaan yang sudah maupun belum dilaksanakan serta berbagai kendala yang selama ini dihadapi.
Denny mengatakan, pemetaan risiko menjadi langkah awal sebelum studi lama diperbarui. Sebab, sebagian kajian yang pernah dilakukan dinilai sudah tidak lagi sepenuhnya relevan dengan kondisi terkini.
“Setelah risiko kita petakan, lalu kita susun perencanaan untuk update studi-studi yang pernah dilakukan sebelumnya yang sudah tidak relevan untuk saat ini,” ujarnya.
DJKA berharap rencana relokasi jalur KA tersebut kembali berjalan setelah sempat terhenti hampir tujuh tahun. Jika terealisasi, relokasi tidak hanya diharapkan meningkatkan aspek keselamatan perjalanan KA, tetapi juga membuka peluang pengembangan jaringan SRRL ke wilayah selatan Sidoarjo.
“Kami berharap rencana ini dapat terealisasi kembali setelah stuck selama hampir tujuh tahun,” tutup Denny. (sat)



