Berita Lumajang
Kecamatan Sukodono Lumajang Dilanda Banjir di Tengah Kemarau, Lumajang Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Anomali Cuaca
LUMAJANG, SURYAKABAR.com – Kecamatan Sukodono, Lumajang dilanda Banjir, Jumat (15/5/2026) dinihari.
Banjir di tengah musim kemarau ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat, bahwa ancaman bencana tidak selalu mengikuti siklus musim.
Hujan deras di kawasan hulu Gunung Semeru sejak, Kamis (14/5/2026) malam menyebabkan debit sungai meningkat drastis dan meluap ke sejumlah permukiman.
Kondisi ini menunjukkan, cuaca ekstrem dapat terjadi sewaktu-waktu, meski wilayah telah memasuki musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho menegaskan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi.
“Curah hujan di wilayah hulu cukup tinggi dan berlangsung lama, sehingga menyebabkan debit air meningkat drastis. Kondisi ini menjadi anomali cuaca yang perlu diwaspadai bersama,” kata Isnugroho, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, wilayah yang berada di sepanjang aliran sungai berhulu Semeru memiliki potensi terdampak luapan apabila hujan ekstrem terjadi di kawasan pegunungan.
Itu sebabnya, kesiapsiagaan warga harus terus dibangun, termasuk memahami jalur evakuasi dan memperhatikan informasi resmi kebencanaan.
Pemerintah Kabupaten Lumajang mendorong penguatan literasi kebencanaan melalui sinergi BPBD, perangkat desa, Komunitas Informasi Masyarakat (KIM), Media Center, dan jaringan humas pemerintah daerah.
Kolaborasi ini penting agar informasi yang diterima masyarakat cepat, akurat, serta mampu mencegah munculnya hoaks saat situasi darurat.
Edukasi kebencanaan dinilai semakin penting di tengah perubahan iklim global yang memengaruhi pola hujan. Masyarakat diharapkan tidak hanya waspada saat musim penghujan, tetapi juga tetap siaga sepanjang tahun, terutama bagi wilayah yang berada di sekitar daerah aliran sungai.
Melalui peristiwa ini, Lumajang menegaskan, mitigasi bencana bukan sekadar respons saat kejadian, tetapi juga upaya membangun budaya sadar risiko melalui edukasi, ketepatan informasi, dan gotong royong masyarakat. (*)

