Sepekan PSBB, Ini Evaluasi Pemkot Surabaya

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Setelah berjalan tujuh hari sejak diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Selasa (28/4/2020), Pemkot Surabaya melakukan eveluasi terhadap pelaksanaan PSBB di Surabaya.

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Eddy Christijanto mengatakan, selama tujuh hari atau sepekan pelaksanaan PSBB ini, ada beberapa bidang yang sudah berjalan sesuai harapan, dan ada pula yang masih terus dievaluasi.

Salah satu bidang yang sudah berjalan adalah bidang pendidikan. Pada lembaga pendidikan sudah tidak ada lagi aktivitas, baik di swasta maupun di sekolah negeri, termasuk pula lembaga pendidikan lainnya. Selain itu, bidang kegiatan sosial budaya seperti pesta pernikahan, pesta khitanan dan beberapa acara lainnya relatif nihil dan sudah sesuai Perwali Nomor 16 Tahun 2020.

“Kemudian yang relatif berjalan juga aktivitas di taman-taman, karena kita sudah sebulan setengah atau bahkan lebih melakukan penutupan semua taman di Kota Surabaya. Kebetulan di PSBB juga ada pembatasan aktivitas di taman, sehingga sekarang sudah tidak ada lagi aktivitas di taman-taman,” ungkap Eddy, Selasa (5/5/2020).

Sementara yang menjadi perhatian dan terus dilakukan evaluasi Pemkot Surabaya adalah bidang rumah ibadah atau keagamaan.

Berdasarkan evaluasi dengan Kemenag kemarin, dari 2.504 masjid dan musala di Surabaya, hingga saat ini masih ada 290 masjid atau musala yang melaksanakan tarawih dan sekitar 96 masjid yang masih melaksanakan salat Jumat.

“Makanya, ini terus kita imbau supaya mereka bisa menaati semua peraturan yang ada di saat PSBB,” tandas Eddy.

Sedangkan bidang perkantoran dan perdagangan serta toko-toko yang tidak termasuk pengecualian dalam Perwali, masih banyak ditemukan pelanggaran. Misalnya, beberapa warga masih memilih makan di warung, ada pula yang sahur bersama. Padahal satgas sudah berkali-kali melakukan sosialisasi terkait membungkus makanan yang dibeli dan dimakan di rumah masing-masing.

“Makanya kawan-kawan Satpol PP bertindak tegas. Kami hentikan kegiatan sahurnya
dengan menyuruh pengunjung keluar. Lalu kursinya kita letakkan di atas meja. Karena yang boleh hanya take away,” tegas dia.

Kemudian untuk toko yang tidak sesuai dengan aturan PSBB, Eddy memastikan bakal dilakukan peringatan secara tertulis dan di lokasi itu langsung dilakukan penyemprotan disinfektan. Tidak hanya itu, masih banyak warga, khususnya di pasar masih melanggar aturan. Seperti tidak menerapkan physical distancing.

“Ada juga yang belum pakai masker,” kata dia.

Bahkan, Dinas Ketenagakerjaaan (Disnaker) Kota Surabaya juga turut berkeliling melakukan operasi di setiap kantor untuk menyesuaikan dengan peraturan PSBB yang berlaku.

Berikutnya untuk transportasi dan mobilitas penduduk terpantau cukup mengalami pengurangan. “Kalau pagi sudah berkurang kecuali orang yang pergi kantor yang kantornya masih buka. Tapi setelah jam 08.00- 16.00 cenderung lebih sepi. Lalu jam 16.00 cenderung ramai kembali, karena mungkin mendekati buka puasa. Namun mereka banyak yang belum memakai masker juga,” papar dia.

Menurut Eddy, kunci keberhasilan dari PSBB ini adalah kepatuhan masyarakat terhadap Perwali Nomor 16 tahun 2020. Namun dalam implementasinya ternyata masih banyak ditemui pelanggaran-pelanggaran.

“Jadi sampai hari ke tujuh ini masih ada pelanggaran-pelanggaran dalam PSBB. Dan ini menjadi bagian dari evaluasi kita supaya masyarakat lebih patuh,” ujarnya.

Karena itu, nantinya satgas-satgas yang sudah berjalan sesuai peraturan, seperti satgas yang bergerak di bidang pendidikan akan dialihkan ke satgas lainnya yang masih terus dievaluasi, seperti satgas di bidang keagamaan dan lainnya. “Harapannya tentu PSBB ini bisa diterapkan dan dipatuhi bersama di berbagai bidang,” pungkas Eddy. (be)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *