Pendidikan
Unair Gelar Industry Matching ASSIE IV 2026, Buka Peluang Komersialisasi Riset
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong hilirisasi riset agar terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek Dr Muhammad Fauzan Adziman ST MEng saat menghadiri Industry Matching Airlangga Startup Summit and Innovation Expo (ASSIE) IV 2026 yang digelar Universitas Airlangga (UNAIR) di Main Atrium Grand City Surabaya, Jumat hingga Minggu (6-8/11/2026).
Fauzan mengatakan, kegiatan ini diikuti lebih dari 100 booth hasil penelitian unggulan, khususnya di bidang pangan, kesehatan, dan kosmetik.
Menurutnya, industri kosmetik nasional memiliki potensi pasar yang sangat besar, yakni mencapai lebih dari Rp100 Triliun, sehingga menjadi ruang strategis bagi pengembangan inovasi dari kampus.
“Industri, peneliti, dan kampus kini dapat saling bertemu melalui ajang pencocokan bisnis (business matching). Menariknya, saat ini banyak penelitian yang justru berawal dari kebutuhan industri, sehingga hasil akhirnya dapat langsung dikembalikan ke kampus untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan dan bisnis,” ujarnya, Jumat (6/11/2026).
Fauzan menjelaskan, dalam rangka memperkuat proses hilirisasi dari hulu hingga hilir, pemerintah terus meningkatkan dukungan anggaran riset secara signifikan.
Jika pada 2024 alokasi anggaran berada di angka sekitar Rp150 Miliar, jumlah tersebut meningkat menjadi Rp300 Miliar pada tahun berikutnya, naik ke angka Rp600 Miliar, dan ditargetkan melampaui Rp1 Triliun pada tahun depan.
“Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan dana abadi penelitian senilai sekitar Rp20 Triliun. Hasil pengembangan dari dana abadi ini akan difokuskan untuk membiayai riset-riset berdampak luas bagi masyarakat, seperti di sektor pangan, kesehatan, serta pengentasan kemiskinan,” jelasnya.
Fauzan juga menyoroti pentingnya pengembangan perusahaan berbasis teknologi mendalam (deep tech) yang lahir dari riset kampus.
Menurutnya, produk berbasis deep tech memiliki nilai tambah tinggi dan sulit ditiru, sehingga mampu memberikan pendapatan yang lebih besar.
Fauzan juga mengapresiasi UNAIR yang berhasil meraih juara pertama dalam ajang Indonesia Patent Awards. UNAIR sukses mengembangkan inovasi deteksi dini beserta obat untuk alergi melalui riset yang dipimpin Prof Junaidi Khotib.
Berbagai inovasi strategis lainnya seperti vaksin penanganan Covid-19 (Inafac) hingga Airlinearity, inovasi perawatan bayi prematur agar dapat dirawat langsung di rumah, juga menjadi bukti nyata kontribusi riset anak bangsa di kancah nasional maupun global.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi 2 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) apt Mohamad Kashuri SSi MFarm mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk mendukung program prioritas Presiden terkait hilirisasi dan industrialisasi produk obat serta makanan.
Menurutnya, BPOM tidak hanya berperan sebagai lembaga yang memberikan izin atau sekadar legalitas formal, namun juga aktif melakukan pendampingan sejak awal proses riset.
“Fokus riset di UNAIR di bidang kesehatan dan pangan sangat selaras dengan tugas dan fungsi BPOM. Dalam memastikan kualitas produk obat dan makanan, kami tidak mungkin hanya sebagai tukang stempel. Oleh karena itu, kami mendorong kegiatan industry matching untuk mempercepat hilirisasi,” ungkapnya.
Kashuri menjelaskan, selama ini banyak hasil riset yang diajukan ke BPOM terpaksa ditolak karena tidak memenuhi standar skala nasional maupun global.
Menjawab tantangan tersebut, BPOM menjalankan tiga langkah strategis dan program pendampingan. Yakni, Penyelarasan Standar Riset dan Program BRIDGE (Bersinergi dalam Inovasi dalam Meningkatkan Ekspor).
“BPOM melakukan pendampingan agar penelitian tidak hanya berdasarkan apa yang dimiliki peneliti, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan pasar (market requirement) serta standar yang berlaku. Melalui program BRIDGE, BPOM saat ini telah mendampingi 31 riset agar dapat terhubung dengan industri,” jelasnya.
Selain itu, Program Orang Tua Angkat UMKM, yakni untuk mengatasi keterbatasan modal riset dan keterbatasan pengembangan industri kecil, BPOM menghubungkan UMKM dengan perusahaan industri besar yang sudah matang (mature).
“Program ini menargetkan 1.000 UMKM dapat naik kelas pada tahun ini, didukung komitmen dari 81 industri besar obat dan makanan,” terangnya.
Kemudian, Pendampingan Uji Pra-Klinik dan Uji Klinik, yakni BPOM memberikan asistensi pada tahapan krusial, mulai dari uji toksisitas (keamanan), uji farmakodinamik (dosis dan manfaat), hingga pengesahan uji klinik.
Hal ini dilakukan agar seluruh riset memenuhi regulasi yang ditetapkan dan menghindari penolakan di akhir proses.
“Pendampingan ini tidak hanya dilakukan di UNAIR saja, tetapi untuk seluruh riset di Indonesia. Tiga hal ini menjadi kontribusi nyata BPOM dalam mendukung hilirisasi dan industrialisasi nasional,” pungkasnya. (aci)



