Kroesel Roastery Management System, Aplikasi Olah Kopi Dilengkapi Fitur AI

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai merambah dapur kopi, termasuk ruang roasting.

Teknologi ini menginspirasi Kroesel House of Coffee mengembangkan Kroesel Roastery Management System, sebuah sistem manajemen roastery berbasis digital yang dilengkapi fitur AI untuk membantu roaster menyusun profil roasting secara lebih sistematis dan presisi.

Sistem ini dikenalkan di Kroesel House of Coffee, Jalan Krukah Selatan Nomor 52 Surabaya, Sabtu (5/9/2026) dengan memperlihatkan secara langsung bagaimana rekomendasi profil dari AI diterapkan dalam proses roasting dan kemudian dievaluasi melalui cupping.

Bagi Kroesel, pemanfaatan AI berangkat dari persoalan yang sangat nyata di lapangan. Sebagai penyedia jasa roasting, Kroesel menangani beragam green bean dengan karakter berbeda, mulai dari varietas, proses pascapanen, kadar air, densitas, hingga kondisi biji. Di sisi lain, setiap pelanggan memiliki preferensi rasa dan kebutuhan roasting yang tidak selalu sama.

Keragaman tersebut membuat data menjadi bagian penting dalam pekerjaan roaster. Informasi mengenai jenis green bean, parameter awal, profil roasting, perkembangan suhu, tahapan sangrai, hingga hasil cupping perlu dicatat dan disimpan agar dapat menjadi referensi untuk batch berikutnya.

Masalahnya, pencatatan secara manual membuat proses pencarian riwayat roasting, perbandingan antar-batch, serta penelusuran perubahan profil menjadi lebih lambat. Ketika pelanggan kembali meminta karakter rasa yang sama, roaster juga harus mengandalkan kombinasi antara catatan lama dan pengalaman.

Baca Juga:  UMKM Kopi Koffiku Target Transaksi hingga Rp7 Juta selama Gelaran JCFF 2026

Persoalan inilah yang mendorong Dirganto atau yang akrab disapa Cak Gantok, pemilik Kroesel House of Coffee sekaligus Wakil Ketua Badan Penyelenggara Universitas Adi Buana (UAB) mengembangkan sistem tersebut.

“Gagasan ini berawal dari masalah yang sangat praktis. Kami menerima green bean dengan kondisi yang berbeda-beda, sementara setiap pelanggan mempunyai permintaan yang berbeda dan terkadang berubah. Jika semuanya hanya mengandalkan catatan manual dan ingatan, prosesnya menjadi lambat dan sulit dikembangkan,” ujarnya di sela mengenalkan sistem ini ke sejumlah pelanggan.

Cak Gantok mengatakan, melalui sistem yang dikembangkan, data roasting dapat terdokumentasi secara digital dan digunakan kembali.

“Tidak hanya berfungsi sebagai catatan, data tersebut juga menjadi dasar bagi AI untuk memberikan referensi awal kepada roaster ketika menentukan profil sangrai,” katanya.

Cak Gantok menegaskan, AI tidak ditempatkan sebagai pengganti roaster. Teknologi tersebut hanya memberikan rekomendasi, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.

Menurutnya, hasil roasting dipengaruhi banyak faktor. Selain profil yang digunakan, kualitas green bean, karakter mesin, kondisi lingkungan, hingga kemampuan operator membaca perubahan selama proses roasting ikut menentukan hasil akhir.

“AI tidak kami tempatkan sebagai pengganti roaster. AI menjadi alat bantu berpikir yang dapat mempercepat penyusunan profil awal dan membantu proses kerja menjadi lebih sistematis. Mesin roasting boleh sederhana, tetapi proses pengambilan keputusannya dapat dibantu agar lebih terarah, konsisten, dan presisi,” tegasnya.

Baca Juga:  Expat. Roasters Dharmahusada Surabaya Manjakan Pelanggan dengan Konsep Farm-to-Table

Hamzah, roaster Kroesel yang akrab disapa Ancha menjelaskan, sejumlah parameter green bean, seperti moisture dan density, dapat menjadi bagian dari informasi yang dianalisis sistem.

Dari data tersebut, AI dapat memberikan rekomendasi awal terkait profil roasting, termasuk estimasi charge temperature dan penyesuaian proses untuk mengejar karakter cita rasa tertentu.

Rekomendasi tersebut terutama ditujukan untuk membantu roaster ketika menghadapi green bean yang belum pernah diolah sebelumnya. Namun, tidak sepenuhnya dari nol, roaster mendapatkan titik awal yang kemudian dapat diuji dan disesuaikan berdasarkan karakter mesin serta hasil cupping.

“Ini mempermudah buat catatan supaya tidak manual, jadi tersimpan otomatis. Membantu kita menangani macam-macam jenis kopi, karena setiap kopi dan permintaan customer itu berbeda-beda,” jelasnya.

Menurut Ancha, rekomendasi AI tetap harus diuji karena setiap mesin roasting memiliki karakter yang berbeda. Karenanya, roaster tetap harus melakukan penyesuaian selama proses berlangsung.

“Kalau mesin pasti ada kendalanya, jadi tetap harus diulik. Walaupun punya mesin roasting manual atau bukan yang mahal, sistem ini tetap bisa diterapkan sebagai panduan,” ungkapnya.

Dengan pendekatan tersebut, proses roasting tidak berhenti pada rekomendasi AI. Setelah kopi disangrai, hasilnya tetap dievaluasi melalui cupping untuk memastikan karakter rasa yang dihasilkan sesuai dengan target. Hasil evaluasi tersebut kemudian dapat menjadi bahan pembelajaran untuk proses berikutnya.

Baca Juga:  Kopi Dewa 19 Resmi Dibuka di Surabaya, Ahmad Dhani Sasar Militansi Baladewa

Kroesel melihat pola ini sebagai upaya menghubungkan tiga elemen yang selama ini sering berjalan terpisah, yakni data, proses roasting, dan cita rasa. Data membantu merekam apa yang terjadi, AI membantu membaca dan memberikan rekomendasi, sedangkan pengalaman roaster dan cupping tetap menjadi penentu akhir.

Pengembangan sistem juga tidak diarahkan hanya untuk roastery dengan mesin berteknologi tinggi. Kroesel ingin membuktikan digitalisasi dan AI dapat menjadi alat bantu bahkan bagi pengguna mesin roasting sederhana, selama proses pencatatan dan evaluasinya dilakukan secara terstruktur.

Untuk memperkuat pengembangan teknologi tersebut, Kroesel bersama Program Studi Teknik Elektro dan Teknik Industri Universitas Adi Buana (UAB) akan melakukan riset lanjutan.

Salah satu fokusnya adalah memasukkan karakter masing-masing mesin roasting sebagai variabel analisis agar rekomendasi AI semakin relevan dan valid.

Kroesel Roastery Management System saat ini masih terus dikembangkan. Ke depan, sistem tersebut akan diperkaya dengan variabel dan fitur analisis lain untuk meningkatkan kemampuan membaca proses roasting pada berbagai karakter mesin dan kondisi green bean.

Melalui inovasi ini, Kroesel ingin membawa aktivitas roasting dari sekadar mengandalkan pengalaman dan pencatatan manual menuju proses yang lebih berbasis data.

Namun, satu hal tetap dipertahankan: AI boleh memberikan rekomendasi, namun roaster tetap menjadi pengambil keputusan terakhir untuk menentukan seperti apa cita rasa kopi yang masuk ke dalam cangkir. (aci)