Pendidikan
Mahasiswa ITS Rancang AERIS, Identifikasi Wilayah Risiko Tinggi Kasus DBD
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Tim mahasiswa Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan analisis melalui inovasi Aedes Aegypti Environmental Risk System (AERIS).
Inovasi tersebut untuk mengidentifikasi wilayah yang menjadi zona risiko tinggi demam berdarah dengue (DBD) dengan memanfaatkan Web Geographic Information System (WebGIS) dan machine learning.
Ada lima kecamatan di Surabaya yang menjadi zona risiko tinggi DBD tersebut, yakni Tambaksari, Rungkut, Tandes, Sawahan, dan Semampir.
Ketua tim pengembang AERIS Rifqi Pangestu Wiguna mengatakan, sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi kawasan dengan potensi peningkatan kasus DBD. “Melalui inovasi ini, kami berupaya menggeser pendekatan dari responsif menjadi preventif,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Untuk menghasilkan prediksi tersebut, Rifqi dan tim mengolah data kasus DBD Kota Surabaya tahun 2019-2024 dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
Data kemudian dikombinasikan dengan berbagai variabel seperti curah hujan, topografi, kepadatan penduduk, sebaran titik genangan, dan enam variabel lain.
“Semakin banyak faktor relevan yang diintegrasikan ke dalam model, semakin baik pula kemampuan AERIS dalam memprediksi risiko DBD,” katanya.
Data tersebut diproses menggunakan empat metode pemodelan machine learning. Pemodelan tersebut antara lain Random Forest, XGBoost, Support Vector Regression, dan Regresi Binomial Negatif.
“Kombinasi variabel ini memungkinkan sistem menyajikan informasi risiko sebagai pendukung pengambilan keputusan berbasis data,” ungkapnya.
Hasil analisis AERIS memperlihatkan, risiko DBD terkonsentrasi pada wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Selain itu, keberadaan genangan air menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam model prediksi yang dikembangkan timnya.
“Oleh sebab itu, pengelolaan genangan dan pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi langkah yang relevan,” terangnya.
Rifqi menyebut, keandalan model diuji menggunakan data aktual kasus DBD pada Maret 2025 yang tidak diikutsertakan dalam proses pelatihan data.
Hasilnya, model berhasil mengidentifikasi 9 dari 10 kecamatan dengan kasus tertinggi secara tepat. Adapun, Bubutan menjadi kecamatan yang tidak teridentifikasi diduga karena faktor lokal sesaat seperti kluster wabah.
Selain menghasilkan prediksi risiko, AERIS juga menyajikan informasi dalam bentuk peta interaktif berbasis WebGIS. Pengguna dapat mengakses visualisasi persebaran kasus DBD, curah hujan, fasilitas kesehatan, hingga hasil prediksi risiko penyakit pada tingkat kecamatan melalui tautan aeris.geowebgis.id.
“Kami berharap AERIS menjadi salah satu alat pendukung pengambilan keputusan yang berbasis data,” pungkasnya. (aci)


