Berita Sidoarjo
Kesenian Khas Sidoarjo Reog Cemandi Tampil di Car Free Day Alun-alun
SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Kesenian tradisional Reog Cemandi menjadi magnet bagi pengunjung Car Free Day (CFD) di Alun-Alun Sidoarjo, Minggu (7/6/2026) pagi.
Penampilan seni budaya khas Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, itu menghibur warga yang memadati kawasan pusat kota untuk berolahraga dan menikmati kuliner.
Berbeda dengan Reog Ponorogo yang identik dengan dadak merak dan iringan gamelan lengkap, Reog Cemandi memiliki ciri khas tersendiri.
Kesenian ini dimainkan menggunakan enam kendang dan dua topeng barongan, yakni barongan lanang dan barongan wadon, yang menjadi daya tarik utama dalam setiap pertunjukan.
Reog Cemandi lahir sekitar tahun 1920 an, sebagai sarana siar agama Islam sekaligus perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Dalam pementasan di CFD tersebut, para pemain yang seluruhnya merupakan remaja tampil energik membawakan berbagai gerakan khas Reog Cemandi.
Penampilan mereka mendapat sambutan hangat dari warga yang antusias menyaksikan pertunjukan hingga selesai.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur, Endah Budi Heryani, mengatakan pementasan tersebut merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya melalui ruang kreasi bagi generasi muda yang tergabung dalam sanggar seni.
“Para pemain ini merupakan remaja yang telah 15 kali berlatih, dan pagi ini merupakan waktu pementasan. Ini menjadi bagian dari pembinaan kesenian yang sudah memiliki maestro dan terus kami dorong untuk berkembang,” kata Endah.
Ia menjelaskan Reog Cemandi telah ditetapkan pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI).
Penetapan tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga eksistensi budaya lokal sekaligus memperkuat pengakuan terhadap kekayaan budaya bangsa.
“Nah, penetapan ini untuk mencegah agar budaya kita tidak diklaim negara lain,” ujarnya.
Pementasan Reog Cemandi juga dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Netti Lastiningsih, sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian seni tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.
Salah seorang pengunjung CFD, Arista, warga Kecamatan Gedangan kelahiran Ponorogo, mengaku terhibur dengan penampilan Reog Cemandi.
Menurut dia, kesenian tersebut memiliki keterkaitan sejarah dengan Reog Ponorogo namun telah mengalami penyesuaian sesuai karakter budaya masyarakat pesisir Sidoarjo.
“Yang pernah saya baca, pencetus reog ini pernah menjadi pemain Reog Ponorogo, kemudian menyesuaikannya dengan budaya lokal sehingga lahir kesenian khas Cemandi yang berbeda dan menarik untuk disaksikan,” katanya. (sat)


