Berita Sidoarjo
Barongsai dan Liong Karya Julius Setiawan Kebanjiran Pesanan di Tahun Kuda Api, Pesanan hingga NTT

SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Denting gunting, lem, dan kain warna-warni terdengar nyaris tanpa henti dari sebuah rumah di Perumahan Shoji Land, Desa Karangtanjung, Kecamatan Candi.

Di rumah itulah Julius Setiawan, pengrajin barongsai dan liong, menghidupkan kesenian tradisional Tionghoa lewat tangan terampilnya. Menjelang perayaan-Tahun Baru Imlek, pesanan karyanya meningkat tajam.

Sepanjang tahun ini, Julius mencatat setidaknya enam unit barongsai dan tiga liong atau naga telah dipesan pelanggan.

Angka itu lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Pesanan datang tak hanya dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, pesanan juga datang dari luar pulau, bahkan hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga:  Legacy Ballroom Surabaya Siap Gelar Pertunjukan Spektakuler Jelang Tahun Baru Imlek 2577

Menurut Julius, peningkatan permintaan biasanya terjadi menjelang perayaan Imlek, Cap Go Meh hingga festival budaya daerah. Banyak kelompok barongsai baru bermunculan dan membutuhkan perlengkapan berkualitas.

“Tahun ini lumayan ramai. Sudah ada sembilan pesanan masuk. Biasanya segini baru ramai mendekati Imlek, sekarang lebih awal,” ujar Julius saat ditemui di rumahnya, Senin (9/2/2026).

Proses pembuatan satu barongsai membutuhkan ketelatenan tinggi. Julius menyebut, satu unit barongsai rata-rata selesai dalam waktu satu bulan, mulai dari rangka, pelapisan kain, pemasangan bulu, hingga pengecatan detail wajah.

Baca Juga:  Atraksi Barongsai Hibur Penumpang Kereta Api Meriahkan Tahun Baru Imlek di Stasiun Gubeng

Sementara liong berukuran panjang bisa memakan waktu hingga dua bulan, karena konstruksinya lebih kompleks dan membutuhkan lebih banyak ornamen.

Sejumlah aksesori penting bahkan masih harus didatangkan langsung dari Tiongkok. Mata, jenggot, hingga bola hidung menjadi komponen yang sulit ditemukan di dalam negeri.

“Beberapa bagian memang harus impor supaya tampilannya lebih hidup dan autentik. Kalau pakai bahan lokal, kadang detailnya kurang,” kata Julius.

Baca Juga:  Semangat Lawan Kanker, RSU Assakinah Medika Sidoarjo Gelar Zumba Fun Cardio

Untuk harga, Julius mematok kisaran Rp4 juta hingga Rp6 juta per unit, tergantung ketebalan bulu dan tingkat kerumitan desain. Semakin tebal dan padat bulunya, semakin mahal biayanya. Meski demikian, ia berupaya menjaga harga tetap terjangkau.

Memasuki Tahun Kuda Api, Julius berharap usahanya terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap seni barongsai dan liong. “Semoga pesanan makin banyak, rezeki lancar, dan yang paling penting semua diberi kesehatan,” harap Julius. (sat)