Pendidikan
Mahasiswa Unesa Kenalkan Beragam Pilihan Pangan Lokal lewat Inovasi Edukasi Digital

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkenalkan berbagai pilihan pangan lokal kepada masyarakat melalui inovasi edukasi digital.

Inovasi ini dilatarbelakangi kekayaan sumber pangan Indonesia yang beragam, mulai dari beras, singkong, jagung, ubi jalar, talas, hingga sagu. Setiap bahan pangan memiliki karakteristik dan tempat tersendiri dalam kebiasaan konsumsi masyarakat.

Inovasi bertajuk “Ga Nasi Ga Makan: Pangan Lokal Lain Terlupakan” tersebut dikembangkan melalui Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM).

Melalui karya ini, mahasiswa berupaya mengemas informasi tentang sumber pangan lokal menjadi materi edukasi yang menarik, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tim yang dipimpin Muhammad Arju Fawwaz ‘Alaix dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) itu melihat kekayaan sumber pangan Indonesia merupakan potensi yang dapat diperkenalkan lebih luas.

Baca Juga:  Lawan Normalisasi Joki Tugas Kampus, Mahasiswa Unesa Gagas Gerakan SATU ANTIJOKI

Kebiasaan mengonsumsi nasi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi pengembangan karya.

“Persoalannya bukan karena Indonesia kekurangan alternatif pangan, melainkan bagaimana alternatif tersebut dapat lebih dikenal, diterima, dan dibiasakan dalam pola konsumsi masyarakat,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).

Berdasarkan data yang digunakan tim dalam pengembangan karya, sekitar 98,86 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras, sedangkan konsumsi umbi-umbian tercatat sekitar 59,62 persen.

Dari sisi jumlah, konsumsi beras mencapai 87,3 kilogram per kapita per tahun, sedangkan umbi-umbian sekitar 18,3 kilogram per kapita per tahun.

Baca Juga:  Dua Mahasiswa Unusa Lolos Program Naresuan University Thailand

Data tersebut menjadi salah satu bahan bagi tim untuk memahami gambaran konsumsi pangan masyarakat. Melalui pendekatan edukasi, mereka berupaya memperluas informasi mengenai sumber karbohidrat lain yang juga tersedia di Indonesia, tanpa menempatkannya sebagai pengganti yang harus dipilih masyarakat.

Dalam proses pengembangannya, tim menggunakan pendekatan design thinking melalui lima tahapan, yakni empathize, define, ideate, prototype, dan test. Pendekatan tersebut menjadi dasar untuk merancang materi dan media komunikasi yang sesuai dengan sasaran edukasi.

Karya ini tidak hanya dikembangkan melalui publikasi digital. Tim juga memanfaatkan media sosial, sosialisasi langsung, serta kampanye partisipatif bertajuk #BeragamItuSehat untuk memperkenalkan informasi tentang pangan lokal kepada kelompok masyarakat yang berbeda.

“Kami telah melakukan sosialisasi di lima wilayah, yakni Surabaya, Gresik, Lamongan, Magetan, dan Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Sasarannya mulai dari siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga keluarga dan masyarakat umum melalui kolaborasi dengan kelompok ibu-ibu PKK,” katanya.

Baca Juga:  Kiprah Unesa di Bidang Pendidikan Inklusif Diakui Pemerintah Malaysia lewat Penghargaan WATIKA

Dosen pembimbing Yetty Septiani Mustar menjelaskan, persoalan konsumsi pangan tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan dan budaya yang telah terbentuk dalam kehidupan masyarakat. Sehingga, pengenalan pangan lokal perlu ditempatkan sebagai upaya memperluas pengetahuan mengenai keragaman sumber karbohidrat.

“Pesan yang disampaikan bukan untuk menghilangkan nasi dari pola konsumsi, melainkan mendorong masyarakat agar tidak terpaku pada satu sumber karbohidrat,” jelasnya.

Menurut Yetty, kekuatan karya mahasiswa tersebut terletak pada penggabungan kreativitas desain dengan substansi edukasi.

Informasi mengenai pangan lokal dikemas melalui pendekatan visual yang lebih komunikatif sehingga berpeluang menjangkau masyarakat secara lebih luas. (aci)