Pendidikan
Alumni FK Unusa Raih Gelar Magister Kesehatan Masyarakat dari Beasiswa Erasmus Mundus

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama (FK Unusa) Surabaya Mohammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar berhasil menuntaskan studi Magister Kesehatan Masyarakat di Eropa melalui program European Public Health Master (Europubhealth+).

Ia menempuh pendidikan di Belgia dan Prancis dengan dukungan Erasmus Mundus Excellence Scholarship dari Uni Eropa.

Qoimam merupakan lulusan Pendidikan Dokter dan Profesi Dokter FK Unusa. Ia menempuh pendidikan sarjana kedokteran selama empat tahun, lalu melanjutkan profesi dokter selama dua tahun tujuh bulan. Proses profesi dijalani di tengah penyesuaian sistem pendidikan akibat pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Unusa Siapkan Program Beasiswa Khusus pada Penerimaan Mahasiswa Baru 2026-2027

Pada jenjang magister, Qoimam menjalani tahun pertama di University of Liège, Belgia. Tahun kedua dilanjutkan di EHESP French School of Public Health, Prancis. Program Europubhealth+ dikenal memiliki kurikulum lintas negara dengan tuntutan akademik tinggi.

“Di Belgia, saya dituntut sangat serius secara akademik. Biostatistik menggunakan software R, ujian oral, hingga simulasi perancangan undang-undang kesehatan menjadi pengalaman yang sangat menantang,” ujar Qoimam, Jumat (16/1/2026).

Baca Juga:  Universitas Brawijaya Bebaskan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Bencana di Pulau Sumatera

Di Prancis, sistem pembelajaran menggunakan model alternate, yaitu kombinasi perkuliahan dan magang profesional berbayar. Qoimam menjalani magang riset selama 11 bulan di Fondation MNH Prancis dengan fokus isu kesehatan tenaga kesehatan.

Qoimam mengatakan, bekal akademik dari FK Unusa berperan besar dalam proses adaptasi. “Fondasi metodologi dan ilmu Kesehatan Masyarakat yang saya dapatkan di Unusa sangat kuat. Itu membuat saya tidak terlalu kesulitan mengikuti perkuliahan magister yang materinya jauh lebih mendalam,” ungkapnya.

Baca Juga:  Menteri Sosial Tegaskan Sekolah Rakyat Dirancang untuk Pengentasan Kemiskinan

Qoimam juga membandingkan suasana klinis di University of Liège dengan pengalaman pendidikannya di Surabaya. “Atmosfer klinisnya terasa familiar, pasien lalu-lalang, dosen mengajar dengan jas dokter. Itu membuat saya merasa seperti kembali ke Unusa,” terangnya.

Kepada mahasiswa FK Unusa, Qoimam menekankan pentingnya penguasaan bahasa Inggris sejak dini. Menurutnya, mayoritas literatur dan jurnal kedokteran internasional menggunakan bahasa Inggris.

Ia juga mendorong mahasiswa aktif dalam kegiatan riset, organisasi, dan pengabdian masyarakat. “Soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kerja tim sangat penting, dan itu banyak ditempa lewat organisasi,” katanya.

Capaian Qoimam menunjukkan kiprah lulusan FK Unusa di level internasional. Prestasi ini sekaligus mencerminkan daya saing lulusan kedokteran Unusa dalam kompetisi akademik global. (aci)