Batik Ecoprint Menarik dan Beri Nilai Ekonomi, Begini Antusias Peserta pada Konsultasi dan Pelatihan Online
SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Ekonomi kreatif terus berkembang di Jawa Timur (Jatim). Seperti, seni membatik dari bahan alam, atau biasa disebut ecoprint.
Seni batik ecoprint ini memanfaatkan bahan dasar alam, yakni daun. Daun dari beragam jenis dan model dipilih selain memberi nilai ekonomi, juga untuk memberi aksen dan ruang kreatif para pelaku ekonomi kreatif.
“Ecoprint ini menarik. Karena setiap model batik ecoprint yang sudah jadi, akan berbeda satu dengan yang lain. Disitu para pelaku UKM bisa terus mengembangkan sesuai keinginan dan kreativitasnya masing-masing,” kata Rizki Fakhrunnisa, kepada suryakabar.com, Kamis (5/11/2020).
Selaku narasumber dan juga pelaku UKM ecoprint asal Sidoarjo ini, Rizki sapaan Rizki Fakhrunnisa dalam acara konsultasi dan pelatihan membuat ecoprint di ruang serbaguna Dinas Koperasi (Dinkop) dan UKM Provinsi Jatim di Jl. Juanda, Sidoarjo mengatakan, acara kali ini dilakukan secara online dan offline.
“Karena masih pandemi, sosialisasi ekonomi kreatif, batik ecoprint ini digelar dengan dua cara yakni, peserta hadir langsung di ruangan dan sebagian mengikuti secara online melalui zoom meating,” terangnya.
BACA JUGA:
Tenaga Ahli Produksi dan Pemasaran Dinkop Jatim, Faiqotul Himmah mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi acara tersebut. Melihat antusias para peserta dalam acara itu, pihaknya optimistis, ecoprint patut dikembangkan dan diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat ditengah pandemi ini.
“Bahan pembuatan ecoprint ini mudah, pun cara membuatnya juga mudah. Ecoprint ini cocok jika dikembangkan di Jatim. Semakin banyak warga Jatim yang bisa membuat ecoprint, produk akan mudah terkenal. Bukan hanya nasional, mungkin tembus ke pasar internasional,” tuturnya.
Pada acara Konsultasi dan Pelatihan Online sesi keempat ini yang hadir langsung puluhan peserta. Sementara yang mengikuti secara online dari seluruh Jatim, sekitar 78 peserta.
Peserta yang hadir secara langsung rata-rata dari wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Juga ada peserta yang rela hadir jauh-jauh dari Jember, dan Kediri.
Mereka antusias mengikuti acara tersebut, karena dinilai banyak memberi manfaat dan nilai lebih dari kreasi batik ecoprint yang rata-rata diminati ibu-ibu rumah tangga ini, dan bisa memberi nilai ekonomis.
Salah seorang peserta dari Surabaya, Sri Wahyuni mengaku, baru mengenal batik ecoprint sudah bisa dan berani mengaplikasikan, dengan hasil yang menarik.
“Saya mulai aktif, Agustus 2020, tiga bulan kemarin. Selain menggunakan media kain halus, ternyata saya bisa aplikasikan di kain kanvas. Alhamdulillah, batik ecoprint bisa jadi tas jinjing maupun slempang,” ucap Sri Wahyuni kepada suryakabar.com disela mengikuti acara Konsultasi dan Pelatihan Membuat Ecoprint Teknik Iron Blanket (lanjutan), Kamis (5/11/2020).
Sehelai kain batik ecoprint yang sudah jadi ukuran satu meter persegi, lanjut Yuni, sapaan Sri Wahyuni, bisa dibuat dua hingga tiga tas. Model tas jinjing maupun slempang. Setiap satuan tas yang sudah jadi, biasa dipasarkan dengan harga Rp 100 ribu hingga 200 ribu.
“Selain dibuat tas, terkadang saya buat untuk penghias kotak tisu, ini juga keren. Ada juga kain batik ecoprint yang saya cetak di media kain halus untuk bahan pembuatan masker,” pungkasnya. (sty)